Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Cerita Perjuangan Kalimantan Tengah; Rumah Juang, Saksi Bisu Detik-Detik Perjuangan H Amberi Melawan Penjajahan Belanda

Ayu Oktaviana • Jumat, 15 Agustus 2025 | 10:42 WIB
Kondisi bagian depan hingga bagian dalam Rumah Juang H Ambri di Desa Anjir Serapat, Kabupaten Kapuas. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Kondisi bagian depan hingga bagian dalam Rumah Juang H Ambri di Desa Anjir Serapat, Kabupaten Kapuas. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

 

KUALA KAPUAS–Di Desa Anjir Serapat, Kecamatan Kapuas Timur, tepatnya di Jalan Anjir Serapat Km 10, berdiri sebuah rumah panggung kayu bergaya klasik yang menjadi saksi bisu cerita perjuangan dari Kalimantan Tengah.

Cat kuning dan atap sirapnya menambah kesan bersejarah. Arsitekturnya berbeda dari rumah panggung tradisional khas Kalteng, lebih mirip rumah kolonial di Jawa dengan banyak jendela persegi panjang di bagian depan dan samping.

Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Rumah Juang H. Ambri. Bangunan ini pernah menjadi markas pejuang kemerdekaan RI di wilayah Kapuas, bagian dari Batalion Divisi IV ALRI.

Di rumah inilah, H. Amberi ayau yang biasa disebut H Ambri, putra daerah yang gagah berani, gugur akibat serangan pasukan NICA Belanda pada 17 Desember 1945.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, dibangun Monumen di depan rumah tersebut pada erah pemerintahan Gubernur Kalteng WA Gara pada tahun 1980.

Di belakang Monumen ada Taman Makam Pahlawan (TMP) Surya Candra. Di sinilah pejuang kemerdekaan dari Anjir Serapat termasuk makam H Amberi dan rekannya Ideris Mayusuf.

Pada Jumat (8/8/2025) lalu, Kalteng Pos mengunjungi Rumah Juang ini. Saat itu bertemu langsung dengan salah seorang cucuk H Amberi yaitu Syahminan. Ia menceritakan perjuangan sang kakek di medan pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan.

Syahminan bercerita bahwa Rumah Juang ini awalnya dibangun oleh orang tua dari sang kakek yaitu H Mastur. Awalnya disebut berukuran 9 meter x 20 meter.

“Yang pasti lama sebelum jaman kemerdekaan (keluarga H Mastur) memang sudah tinggal di sini mungkin sudah seratus tahun,” ujar Syahminan.

Mastur tinggal di rumah tersebut bersama istrinya yang bernama Hj Amnah dan beberapa orang anaknya termasuk H Amberi yang merupakan anak tertua dalam keluarga tersebut. Amberi sendiri sebelum gugur dalam pertempuran sudah berkeluarga dan mempunyai 3 orang anak.

“Kalau tidak salah waktu itu yang tinggal di rumah ini ada bertujuh,” terang Syahminan yang menambahkan bahwa ibunya yaitu Hj Saidah Fatimah (almarhum) merupakan anak tertua H Ambri baru berusia sekitar 7 tahun pada saat itu.

H Mastur sendiri disebut Syahminan sebagai seorang petani. Sehari harinya petani karet, bertani sawah dan kebun. Selain sebagai seorang petani, Syahminan mengatakan bahwa H Mastur juga dikenal sebagai dukun sunat di daerah itu.

Digambarkannya bahwa pada masa itu orang tua dari kakeknya diketahui memiliki kebun yang cukup luas di daerah Desa Anjir Serapat.

Kondisi bagian dalam rumah Juang H Ambri di Desa Anjir Serapat, Kabpaten Kapuas. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS.
Kondisi bagian dalam rumah Juang H Ambri di Desa Anjir Serapat, Kabpaten Kapuas. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS.

“Dari cerita ibu saya, dulu di sini hutan belantara dan kebun, bangunan yang paling dekat cuma ada kantor saja di sana disana, rumah lain jauh jauh,” kata Syahminan.

Dia juga mengatakan bahwa kakeknya yakni H Amberi sendiri sebagai anak sulung di dalam keluarga ikut tinggal di rumah itu untuk membantu pekerjaan orang tuanya.

Sesaat sesudah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Amberi memutuskan ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan, ia bergabung dalam laskar pejuang kemerdekaan.

Laskar Pejuang RI di Desa Anjir Serapat dipimpin Dahlan Karim. Pasukan ini kemudian menjadikan rumah H. Amberi sebagai salah satu markas.

Syahminan menuturkan bahwa peristiwa penyerangan pasukan Nica Belanda terjadi pada Senin 17 Desember 1945 sekitar pukul 10.00. Satu peleton pasukan Nica Belanda datang dari Kota Banjarmasin melalui jalur sungai.

“Pasukan Belanda itu datang dengan menggunakan dua perahu mesin, masuk lewat di sungai anjir ini dan berhenti di pelabuhan dermaga kecil yang dulu ada dekat sini,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa pada saat pasukan Nica Belanda itu datang bertepatan dengan hari pasar di daerah Anjir Serapat. “Di sini dulu ramai setiap hari Senin pasti ramai karena kegiatan pasarnya memang di halaman rumah ini,” ucapnya.

Menurut cerita ibunya Hj Saidah Fatimah, kedatangan penjajah disebabkan informasi dari mata-mata Belanda di lingkungan desa, memberitahukan tentang keberadaan pasukan pejuang RI kepada Belanda.

Sesampainya di Desa Anjir Serapat, Belanda langsung mendatangi Rumah H Amberi dan memerintahkan semua penghuni rumah keluar, menyerah kepada penjajah.

Saat itu, H Amberi bersama beberapa pejuang termasuk juga Ibunya sendiri yakni Hj Amnah dan kedua anak dari H Amberi sendiri yaitu Saidah Fatimah dan adiknya yang bernama Husin Kadri sedang berada di dalam rumah. Pejuang yang berada di sekitar rumah melakukan perlawanan.

“Jadi modelnya, di sini terjadi pertempuran,” kata Syahminan.

Dikatakannya bahwa akibat kondisi persenjataan yang tidak berimbang di mana pasukan pejuang RI sendiri melakukan perlawanan dengan senjata seadanya, akhirnya pasukan pejuang mundur dan bersembunyi masuk ke dalam hutan.

Akhirnya tersisa Amberi yang masih bertahan di dalam rumah tersebut beserta ibu dan keduanya anaknya yang bersembunyi di dalam kamar.

“Datuk dan ibu saya itu bersembunyi telungkup di bawah ranjang, dulu di kamar ini memang ada ranjang,” kata Syahminan sambil membawa Kalteng Pos ke sebuah kamar yang di rumah juang itu untuk menunjukkan tempat persembunyian ibu dan datuknya tersebut.

Amberi sendiri saat melawan pasukan Belanda awalnya juga bersembunyi di dalam kamar.

Namun melihat ibu dan anaknya bersembunyi di dalam kamar, H Ambri kemudian memilih berpindah bersembunyi di balik pintu yang memisahkan antara ruang tamu dengan ruang tengah di rumah tersebut sambil terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

“Waktu itu kakek kita (H Amberi) melawan Belanda dengan pistol dan tombak,” ujar Syahminan.

Awalnya posisi pasukan Belanda sendiri saat menembaki H Amberi yang masih bertahan di dalam rumah dari halaman rumah. Namun Belanda kemudian bergerak maju sampai di depan pintu rumah dan memberondong dengan tembakan membabi buta yang keluar dari senapan mesin.

Berondongan bekas tembakan membabi buta dari pasukan Belanda itu sendiri sampai hari ini masih terlihat bekasnya.(sja/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#gubernur kalteng #tempat persembunyian #peristiwa bersejarah #Kabupaten Kapuas #Rumah Juang H Ambri #pasukan #putra daerah #tombak #pejuang kemerdekaan #kalimantan tengah #kemerdekaan #perjuangan #bersejarah #kolonial #indonesia #NICA Belanda #petani #markas #pelabuhan #pertempuran #rumah panggung #belanda