Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Daur Ulang Sampah Plastik di Palangka Raya, Produksi 100 Paving Blok Sehari

Agus Pramono • Kamis, 6 November 2025 | 10:30 WIB
Proses pembuatan paving dari proses daur ulang plastic di PDU Jalan Wortel. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Proses pembuatan paving dari proses daur ulang plastic di PDU Jalan Wortel. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik yang sulit terurai, UPTD Pengelolaan Sampah Terpadu Kecamatan Pahandut dan Sabangau memiliki alat untuk mendaur ulang sampah menjadi bahan bernilai ekonomi.

ILHAM ROMADHONA, Palangka Raya

SUARA mesin terdengar berdengung di sudut Jalan Wortel, Palangka Raya. Asap tipis mengepul dari tungku peleleh plastik, sementara beberapa pekerja sibuk memilah-milah tumpukan sampah. Di tangan mereka, benda yang sering dianggap tak berguna layaknya plastik bekas bungkus makanan dan kantong kresek. Sebentar lagi akan berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Yaitu paving blok.

Pusat Daur Ulang (PDU) Kota Palangka Raya menghadirkan solusi kreatif dan bermanfaat. Salah satunya dari tumpukan plastik bekas, lahirlah paving blok yang kini banyak digunakan di sejumlah ruas jalan kota.

Setiap harinya, tim di PDU yang berlokasi di Jalan Wortel ini mampu memproduksi hingga 100 buah paving blok. Dengan bantuan mesin peleleh plastik dan press hidrolik, plastik bekas diubah menjadi bahan bangunan yang kokoh dan bernilai ekonomi.

Aktivitas di PDU dimulai sejak pagi hari. Tepatnya pukul 08.00 WIB. Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Terpadu Kecamatan Pahandut dan Sabangau, Robi Sarwo Prasojo, menuturkan bahwa produksi paving ini baru dimulai pada awal tahun 2025.

“Karena PDU sampah di sini baru diresmikan tahun kemarin dan daya listriknya belum memadai, makanya pengelolaan paving baru bisa dilakukan di Februari 2025,” ujarnya ketika ditemui Kalteng Pos di PDU, Rabu pagi (5/11/2025).

Robi menjelaskan, jenis plastik yang digunakan pun tidak sembarangan. Umumnya, hanya plastik low value seperti bungkus makanan ringan dan kantong plastik yang dapat diolah menjadi paving.

“Kaya sampah plastik pada umumnya saja, namun plastik yang biasanya dipakai untuk ciki-ciki yang dalamnya ada aluminium, itu nggak bisa,” jelasnya.

Menariknya, hasil paving dari olahan plastik ini sudah diminati masyarakat maupun instansi pemerintah. Instansi pemerintahan tersebut pernah memesan sekitar 13 ribu paving blok untuk keperluan pembangunan di Jalan Gelatik, Perumnas Lama.

“Kami sempat menerima pesanan dari Pemko sebanyak 13 ribu paving. Jadi waktu itu kami kerja sampai malam, jam tujuh atau delapan malam baru selesai,” tutur Robi sambil tersenyum.

Proses pembuatan paving dari proses daur ulang plastic di PDU Jalan Wortel. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Proses pembuatan paving dari proses daur ulang plastic di PDU Jalan Wortel. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

Namun, di balik proses inovatif itu, ada tantangan yang masih harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.

“Kendalanya masih di situ. Masyarakat belum terbiasa memilah sampahnya sendiri, jadi petugas yang harus memilah lagi, dan itu memperlambat proses daur ulang,” ungkap Robi.

Robi menjelaskan pekerja di PDU sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar yang tergabung dalam koperasi. Awalnya mereka hanyalah kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun kini telah memiliki badan hukum resmi berkat dorongan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain itu, PDU juga membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar langsung tentang pengolahan sampah. Saat penulis berkunjung, tampak lima siswa dari SMKN 1 Palangka Raya tengah melakukan praktik kerja lapangan.

“Mereka dari jurusan energi terbarukan, selama enam bulan mereka menempuh pendidikan di sini,” terang Robi.

Penulis juga sempat melihat serta memperhatikan proses pembuatan paving. Ada beberapa tahapan. Mula-mula sampah plastik terlebih dahulu dipilah, kemudian dilelehkan di mesin peleleh plastik dengan suhu sekitar 350 derajat Celsius selama 15 menit.

Setelah itu, cairan plastik dimasukkan ke dalam mesin press hidrolik untuk dicetak menjadi paving blok. Dalam waktu sekitar lima menit, satu paving siap direndam ke dalam air dan bisa langsung digunakan.

Saat ini, PDU hanya memiliki satu mesin press hidrolik, sehingga Robi berharap pemerintah bisa menambah peralatan agar kapasitas produksi meningkat.

“Rencananya kami mau minta satu lagi alat press hidrolik, biar prosesnya lebih cepat. Sekarang satu alat bisa sampai lima menit buat satu paving, jadi kalau pesanan banyak, nunggu lumayan lama,” harapnya.

Tak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah, PDU juga berperan sebagai wadah edukasi lingkungan bagi masyarakat dan pelajar. “Kemarin Bunda Paud, Ibu Avina sempat datang bareng delapan sekolah TK untuk belajar tentang pengelolaan sampah di sini,” cerita Robi.

Ia menambahkan, keberadaan PDU juga membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Palangka Raya. Jika sebelumnya sistem pengelolaan sampah bersifat linear (buang dan kumpul), kini diubah menjadi sirkular, yakni sampah yang bisa diolah akan diproses kembali menjadi produk baru.

“PDU ini secara tidak langsung mengurangi beban TPA. Dulu semua sampah langsung dibuang, sekarang sebagian bisa kita olah kembali,” ungkapnya.

Dengan semangat dan inovasi yang terus berjalan, PDU Palangka Raya membuktikan bahwa sampah bukan lagi sekadar masalah, tetapi bisa menjadi sumber nilai dan keberlanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. (*/ala)

Putra Mahkota Lee Gang dan Park Dal I
Putra Mahkota Lee Gang dan Park Dal I
Kim Wo Hee dan Lee Sin Young
Kim Wo Hee dan Lee Sin Young
KEMBANGKAN: Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto.
KEMBANGKAN: Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto.
APRESIASI: Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P Gozali mengajak seluruh pihak terus bersinergi memperkuat UMKM dan menumbuhkan kebanggaan pada rupiah.
APRESIASI: Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P Gozali mengajak seluruh pihak terus bersinergi memperkuat UMKM dan menumbuhkan kebanggaan pada rupiah.
Editor : Ayu Oktaviana
#pengelolaan sampah #kantong plastik #lembaga swadaya masyarakat #Kecamatan Pahandut #pusat daur ulang #praktik kerja lapangan #inovatif #kementerian lingkungan hidup #tempat pembuangan akhir #edukasi lingkungan #proses daur ulang #paving blok #Bernilai Ekonomi