Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Prajurit Payung Pertama TNI AU, Cornelius Willem Akhirnya Dimakamkan di TMP Sanaman Lampang

Agus Pramono • Selasa, 11 November 2025 | 08:30 WIB
Pemakaman Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pemakaman Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA-Jenazah Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem, salah satu putra terbaik Kalimantan Tengah yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, akhirnya dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sanaman Lampang, Palangka Raya, Senin (10/11/2025).

Pemindahan makam ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya atas jasa besar almarhum kepada bangsa dan daerah.

Upacara militer berlangsung dengan penuh ketenangan. Langit Palangka Raya tampak teduh, seolah ikut memberi penghormatan terakhir bagi pahlawan yang telah lama bersemayam di TPU Protestan Barimba, Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas.

Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, H. Edy Pratowo, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, ia menyampaikan rasa hormat mendalam atas pengabdian almarhum Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem.

“Almarhum adalah sosok pahlawan sejati. Beliau telah mengabdikan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemindahan makam ini adalah simbol penghormatan kita atas jasa dan pengorbanan beliau,” ujar Edy.

Pemakaman Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pemakaman Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

Sepak Terjang Cornelius Willem

Letnan Muda Udara Dua Cornelius Willem bukan prajurit biasa. Ia merupakan salah satu dari 13 pasukan payung pertama Indonesia yang diterjunkan dalam Operasi Penerjunan Pertama TNI AU di Tanah Kalimantan pada tahun 1947.

Operasi penerjunan ini merupakan misi rahasia yang bertujuan membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya rakyat di pedalaman Kalimantan. Selain itu, pasukan juga ditugaskan mendirikan stasiun radio induk untuk membuka jalur komunikasi antara Kalimantan dan Yogyakarta ibu kota RI saat itu.

Saat itu, Gubernur Kalimantan Pangeran Mohammad Noor mengirim surat kepada Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Suryadi Suryadarma pada 25 Juli 1947, memohon bantuan pasukan untuk membantu rakyat Kalimantan yang tengah menghadapi Agresi Militer Belanda.

Permintaan tersebut langsung disambut dengan tekad juang yang membara. Komodor Udara Suryadi Suryadarma menugaskan Mayor Udara Tjilik Riwut, putra asli Kalimantan, untuk menyiapkan pasukan penerjun khusus. Dari sinilah sejarah besar dimulai.

Tanggal 17 Oktober 1947, dini hari. Sebuah pesawat Dakota RI-002 lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo. Dipiloti oleh Bob Freeberg dan Opsir Udara III Suhodo, pesawat itu menembus gelap malam, menyeberangi laut dan hutan belantara menuju Kalimantan.

Dengan Opsir Muda Udara III Amir Hamzah sebagai jumping master, ketiga belas prajurit AURI itu diterjunkan di daerah Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Mereka adalah Heri Hadi Sumantri, FM Suyoto, Iskandar, Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, Cornelius Willem, Imanuel Nuhan, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J.H. Darius, dan Marawi. Dari keberanian mereka inilah lahir Korps Pasukan Gerak Cepat (KORPASGAT) pasukan elite TNI AU yang hingga kini menjadi kebanggaan bangsa.

“Ke-13 penerjun itu adalah para pejuang pemberani, mayoritas putra-putra Dayak, yang rela mempertaruhkan nyawa karena jalur laut telah diblokade Belanda. Mereka berjuang di tengah keterbatasan demi menyusun kekuatan gerilya di Kalimantan,” jelas Edy.

Dari perjuangan 13 penerjun inilah, terbentuk jaringan perlawanan rakyat Kalimantan yang turut memperkuat perjuangan nasional. Sebuah babak sejarah yang menegaskan bahwa Kalimantan bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Sebagai generasi penerus, kita wajib melanjutkan semangat perjuangan beliau. Mari kita bangun Kalteng dan Indonesia dengan semangat pengabdian, nasionalisme, dan patriotisme yang beliau wariskan,” katanya. (zia/afa/ram)

Photo
Photo
Editor : Ayu Oktaviana
#agresi militer #Upacara militer #nasionalisme #kalimantan tengah #tni angkatan udara #Cornelius Willem #pasukan elite #Edy Pratowo #kemerdekaan indonesia #pahlawan #belanda #stasiun radio #Perjuangan Nasional