Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Avillia Yufensi Ngagalan Duta Bahasa Kalteng 2025: Tumbuhkan Kecintaan Bahasa Daerah lewat Mendongeng dan Buku

Agus Pramono • Kamis, 20 November 2025 | 19:00 WIB
Avillia Yufensi Ngagalan
Avillia Yufensi Ngagalan

Avillia Yufensi Ngagalan, alumni Teknik Sipil Universitas Palangka Raya (UPR), terinspirasi menjaga dan memperkenalkan bahasa Indonesia setelah merasakan pentingnya bahasa saat belajar di Jepang. Dari pengalaman itu, lahir tekadnya menjadi Duta Bahasa Kalteng dan menyuarakan mimpi anak muda.

M RIFQI PADILA, Palangka Raya

SEJAK duduk di bangku SMA, Avillia Yufensi Ngagalan sudah akrab dengan dunia organisasi dan kegiatan kepemudaan. Kecintaannya pada komunikasi dan keinginan untuk memberi dampak positif membuatnya terus melangkah, bahkan di tengah kesibukan kuliah di Teknik Sipil Universitas Palangka Raya.

Dari ruang kelas hingga panggung advokasi bahasa, langkah Avillia tumbuh bersama tekad untuk membuktikan bahwa pemuda daerah juga bisa bersuara di tingkat nasional.

“Dari dulu aku suka ikut organisasi. Aku ingin membuktikan bahwa pemuda Kalteng juga bisa bersaing dan membawa perubahan,” ujarnya, Sabtu (11/10/2025).

Perjalanan itu tak selalu mulus. Di tengah padatnya tugas akhir dan kegiatan kampus, Avillia sempat merasa ragu apakah dirinya mampu menyeimbangkan semuanya. Namun, semangat untuk berkembang dan menjadi teladan bagi pemuda Kalimantan Tengah membuatnya terus melangkah tanpa menyerah.

“Saat itu aku cuma ingin mulai dari diriku sendiri dulu, menunjukkan bahwa kita di Kalimantan Tengah juga punya potensi besar kalau mau berani mencoba,” tuturnya.

Langkah Avillia menuju panggung Duta Bahasa bermula dari pengalaman pribadi saat mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang. Di negeri sakura itu, ia sempat kesulitan berkomunikasi karena tak memahami bahasa setempat.

Dari situ, kesadarannya tumbuh bahwa bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan identitas dan kebanggaan bangsa.

“Waktu di Jepang, aku sadar betapa pentingnya bahasa. Mereka sangat bangga dengan bahasa sendiri, dan aku ingin kita di Indonesia juga punya rasa bangga yang sama terhadap bahasa kita,” ungkapnya.

Sepulang dari Jepang, tekad itu semakin kuat. Ia mulai mencari wadah untuk belajar dan berkontribusi dalam pelestarian bahasa, hingga akhirnya bergabung dengan Duta Bahasa Kalimantan Tengah. Meski sempat gagal di tahun 2023, Avillia tak berhenti mencoba. Dua tahun kemudian, usahanya berbuah manis saat ia berhasil meraih juara pertama pada ajang Duta Bahasa Kalteng 2025.

“Waktu itu aku daftar lagi di 2025, dan puji Tuhan akhirnya lolos sampai juara satu. Dari situ aku belajar, kegagalan bukan akhir, tapi cara Tuhan mempersiapkan kita lebih matang,” katanya dengan senyum hangat.

Bagi Avillia, menjadi Duta Bahasa bukan sekadar gelar, melainkan tanggung jawab untuk menjaga warisan dan menyalakan semangat literasi di daerah. Melalui program Hapakat Harmoni Aksi Pelestarian Bahasa Daerah ia bersama tim berupaya menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa daerah lewat buku cerita dwibahasa dan kegiatan mendongeng.

“Harapan saya sederhana, semoga makin banyak anak muda yang berani bersuara dan bangga dengan bahasa serta budayanya sendiri,” tutupnya. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#Pemuda Daerah #Pelestarian Bahasa #kalimantan tengah #Dwibahasa #program pertukaran pelajar #Duta Bahasa Kalteng #universitas palangka raya #dampak positif #Pelestarian Bahasa Daerah #Duta Bahasa