PALANGKA RAYA–Keberadaan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang kini tumbuh dan mengakar kuat di berbagai wilayah Kalimantan hingga Pulau Jawa.
Perkembangan ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh perintis pada masa awal penyebaran Kekristenan di Tanah Dayak. Di Kalteng, salah satu nama yang memiliki jejak sejarah penting adalah August Narang, seorang pedagang asal Mandomai yang turut meletakkan fondasi Gereja Dayak Evangelis (GDE), cikal bakal GKE.
Peran August Narang diungkapkan oleh cucunya, Agustin Teras Narang, tokoh masyarakat Kalteng, mantan Gubernur Kalteng dua periode, dan saat ini menjabat sebagai Anggota DPD RI.
“Awalnya gereja ini bukan bernama Gereja Kalimantan Evangelis, melainkan Gereja Dayak Evangelis. Dalam kepengurusan awal itu, ketuanya berasal dari Jerman, sedangkan wakil ketuanya adalah kakek saya,” ujar Teras Narang saat berbincang dengan Kalteng Pos, Senin (22/12/2025).
Menurut Teras Narang, pembentukan Gereja Dayak Evangelis merupakan tonggak penting bagi jemaat Kristen Dayak di Kalimantan. Pada masa itu, August Narang menjadi satu-satunya tokoh Dayak pribumi yang mendampingi para utusan Zending dalam struktur kepengurusan gereja.
“Beliau satu-satunya orang Dayak asli yang ada dalam kepengurusan inti saat itu, dan yang bukan pendeta,” katanya.
Seiring perkembangan waktu dan dinamika jemaat, nama Gereja Dayak Evangelis kemudian disepakati berubah menjadi Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), mencerminkan cakupan pelayanan yang lebih luas dan inklusif di seluruh Kalimantan.
August Narang kemudian mengundurkan diri dari kepengurusan gereja setelah merasa tugas perintisannya telah selesai. Selain kesibukan pribadi, ia juga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan perjuangan pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia.
“Beliau menganggap tugasnya sudah cukup, setelah ikut mendirikan dan membesarkan Gereja Dayak Evangelis,” ujar Teras.
August Narang lahir pada tahun 1886 di Kampung Mandomai, dari pasangan Narang dan Laura Tundan. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Zending Mandomai, yang kelak membentuk karakter, disiplin, dan pandangan hidupnya.
Sejak usia muda, August Narang dikenal sebagai sosok yang ulet dan berani dalam dunia perdagangan. Bakat berniaga itu diwarisinya dari sang ayah, yang terbiasa menempuh jalur-jalur sungai hingga ke pedalaman.
Di Mandomai, August dikenal dengan sebutan Bapak Demal, seorang saudagar besar yang memiliki toko paling menonjol di wilayah tersebut. Pengaruh ekonominya membuat ia dijuluki pasak lewu, sebutan bagi orang berada yang disegani dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak.
Kediaman August yang berdiri di tepian Sungai Kapuas tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga berfungsi sebagai pusat aktivitas perdagangan.
Dari sana, ia menjalankan usaha yang dimiliki. Berbagai barang kebutuhan didatangkan dari Banjarmasin, sementara hasil alam lokal dikumpulkan untuk kemudian diperdagangkan kembali.
Peran August Narang tidak berhenti pada sektor ekonomi
Ia juga dipercaya memegang tanggung jawab penting dalam pemerintahan kampung dan struktur hukum kolonial. August menjabat sebagai Pambakal atau Kepala Kampung Kalampan selama lebih dari satu dekade, yakni sejak 1925 hingga 1939.
Di luar itu, ia ditunjuk sebagai anggota Lid-Commissaris Landraad Koeala Kapoeas, lembaga peradilan yang menangani perkara perdata dan pidana bagi masyarakat pribumi.
Perjalanannya dalam kehidupan gerejawi semakin menonjol ketika Sinode Umum Gereja Dayak Evangelis diselenggarakan di Mandomai pada tahun 1930.
Dalam forum penting tersebut, August dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua sekaligus Sekretaris Majelis Sinode atau Synodale Commissie. Lima tahun kemudian, pada Sinode di Barimba tahun 1935, ia kembali terlibat aktif dalam memperkokoh organisasi dan pelayanan gereja.
Catatan Inspektur Zending Basel untuk Kalimantan, Herman Witschi, menyebutkan bahwa August Narang bersama Hendrik memainkan peranan penting dalam menumbuhkan kesadaran dan semangat pekabaran Injil di kalangan jemaat Kristen Mandomai.
Namun, menjelang pelaksanaan Sinode Umum ketiga di Banjarmasin pada tahun 1941, August Narang memilih mengakhiri keterlibatannya dalam kepengurusan majelis sinode.
Berbagai pertimbangan menjadi alasan keputusan tersebut. Ia menghembuskan napas terakhir pada 28 Juni 1948, dalam usia 62 tahun, dan dimakamkan di pekuburan Kristen Mandomai.
Meski telah lama meninggalkan dunia, peran dan pengabdian August Narang tetap tercatat sebagai bagian penting dalam sejarah pertumbuhan Gereja Kalimantan Evangelis, khususnya di Kalteng.
GKE berpijak nilai-nilai dasar perintis
Teras Narang menilai, secara prinsip dan arah pelayanan, GKE tetap berpijak pada nilai-nilai dasar yang diwariskan para perintisnya. Gereja dinilai tetap solid, baik dalam kehidupan internal jemaat maupun dalam relasinya dengan masyarakat luas.
“Sekarang GKE tidak hanya berkembang di Kalimantan. Jemaatnya juga ada di Jakarta, Surabaya, Salatiga, hingga Yogyakarta,” kata Teras Narang.
Saat ini, lanjutnya, GKE berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum Majelis Sinode Pdt. Dr. Simpon F. Lion, M.Th., dengan pelayanan yang semakin terbuka dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Dalam momen Natal ini, Teras Narang menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada seluruh umat Kristiani dan Katolik, khususnya di Kalteng.
Ia berharap momentum Natal dapat memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang terdampak bencana alam.
“Dalam suasana Natal ini, kita mendoakan agar saudara-saudara kita tetap diberi kekuatan, pengharapan, dan semangat,” ujarnya.
Teras Narang juga mengajak seluruh elemen masyarakat menyongsong Tahun Baru 2026 dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan. (ovi/ala)
Editor : Ayu Oktaviana