Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Bikin Merinding, Pdt D Simpon F Lion Cerita tentang Sejarah Gereja Kalimantan Evangelis

Agus Pramono • Rabu, 24 Desember 2025 | 16:15 WIB

Pdt. Dr. Simpon F. Lion, M.Th dan GKE Mandomai.
Pdt. Dr. Simpon F. Lion, M.Th dan GKE Mandomai.

 

Perjalanan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) merupakan kisah panjang tentang iman, pengorbanan, dan kesetiaan umat Tuhan di tengah tantangan alam, budaya, dan perubahan zaman. Berawal dari pelayanan misi abad ke-19 hingga bertumbuh menjadi gereja mandiri yang berakar kuat pada budaya lokal, sejarah GKE menjadi fondasi penting bagi kehidupan bergereja hingga hari ini.

NOVIA NADYA CLAUDIA, Palangka Raya

KETUA Umum Majelis Sinode GKE, Pdt. Dr. Simpon F. Lion, M.Th., menegaskan bahwa sejarah gereja bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kesaksian iman yang hidup dan harus terus dirawat oleh seluruh jemaat lintas generasi.

“Sejarah gereja adalah kesaksian tentang kasih Tuhan yang menyertai perjalanan GKE dari masa ke masa, juga tentang nilai-nilai luhur para pendahulu yang patut kita teladani dan hidupi,” ujar Pdt. Simpon, Minggu (21/12/2025).

Pdt. Simpon menjelaskan bahwa sejarah GKE tidak dapat dilepaskan dari kehadiran misi Kristen di Kalimantan pada abad ke-19. Para misionaris Eropa menjadi pelayan awal yang membuka jalan bagi Pekabaran Injil di wilayah yang saat itu masih sulit dijangkau.

Nama-nama seperti Barnstein, Hupperts, dan Becker tercatat dalam sejarah sebagai misionaris perintis. Baptisan Kristen pertama di Kalimantan berlangsung pada tahun 1839, menjadi tonggak awal pertumbuhan jemaat Kristen di wilayah ini.

Namun, perjalanan pelayanan tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Pada tahun 1859, terjadi pembunuhan terhadap para misionaris dalam konteks konflik sosial-politik yang melanda Kalimantan pada masa itu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu fase paling kelam dalam sejarah Pekabaran Injil.

“Kendati demikian, jemaat-jemaat yang telah dibina tidak hilang. Mereka tetap bertahan, dihimpun kembali, dan dibina hingga akhirnya memiliki kesadaran untuk berdiri sebagai gereja yang mandiri,” jelasnya.

Kesadaran akan pentingnya gereja mandiri lahir dari kerinduan, untuk menghimpun jemaat-jemaat binaan zending yang tersebar luas di seluruh Kalimantan dalam satu wadah gereja yang berakar pada konteks lokal.

“Jemaat-jemaat tersebut telah bertumbuh dari stasi-stasi misi. Muncul kesadaran kolektif untuk membentuk gereja Dayak, gereja yang dipimpin oleh orang Dayak sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupan iman jemaatnya,” kata Pdt Simpon.

Momentum penting itu terjadi pada 4 April 1935 di Barimba, ketika jemaat-jemaat menyatakan diri sebagai Gereja Dayak Evangelis (GDE). Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah kemandirian gereja.

Sehari kemudian, pada 5 April 1935, dilakukan pentahbisan lima pendeta Dayak pertama, bertepatan dengan peringatan 100 tahun (seabad) Pekabaran Injil di Kalimantan. Peristiwa ini menandai kemandirian gereja secara teologis dan organisatoris. Pada tahun 1950, nama GDE resmi diubah menjadi GKE.

Sebelum Kalteng terbentuk, jemaat-jemaat Kristen telah lebih dahulu hadir dan bertumbuh di wilayah ini. Kehadiran GKE di Kalteng berawal dari jemaat-jemaat yang dibentuk melalui stasi misi.

Salah satu jemaat tertua adalah Jemaat Pulau Telo, yang gerejanya didirikan oleh misionaris Bayer dan ditahbiskan pada 11 Desember 1856. Namun, gereja tersebut hancur pada tahun 1858 dalam peristiwa Tanggohan.

Setelah itu, tonggak penting berikutnya adalah berdirinya Gereja Imanuel Mandomai pada tahun 1876, yang hingga kini diakui sebagai Situs Nasional.

Dalam proses penyebaran Injil dan pembentukan jemaat awal, selain misionaris asing, tokoh-tokoh pribumi memegang peranan penting. Para misionaris awal seperti Barnstein, Hupperts, yang dikenal sebagai pembaptis pertama, serta Becker, menjadi pelayan awal di Kalimantan.

Sementara itu, tokoh-tokoh lokal yang berperan besar menuju kemandirian gereja antara lain August Narang, Kornelius Ikat, Johannes Ahad, Mihing, dan Titus Rumbun.

Pelayanan gereja pada masa-masa awal berlangsung dalam kondisi yang sangat terbatas.

Infrastruktur hampir tidak tersedia, jarak antarwilayah sangat jauh, dan medan pelayanan sangat berat.

“Namun di tengah keterbatasan tersebut, pelayanan tetap berjalan melalui pendidikan, kesehatan, penginjilan, dan pembinaan jemaat,” ungkap Pdt. Simpon.

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi gereja pada fase awal adalah penolakan terhadap ajaran Kristen. Banyak pihak menganggap bahwa menjadi Kristen berarti terputus dari keluarga, adat, budaya, tradisi, dan kepercayaan leluhur.

Selain tantangan teologis dan kultural, gereja juga menghadapi keterbatasan transportasi dan komunikasi yang sangat minim

Pada masa awal, struktur organisasi gereja dibentuk secara sederhana oleh para misionaris, mengacu pada pola gereja di Eropa, khususnya Jerman dan Swiss.

Sejak ditetapkan sebagai Gereja Dayak Evangelis pada 4 April 1935, ditetapkan pula Peraturan GDE, struktur kepemimpinan, serta lima pendeta pertama GDE.

Untuk pertama kalinya, kepemimpinan gereja melibatkan orang Dayak non-pendeta, yakni August Narang sebagai Wakil Ketua GDE, dengan K. Epple sebagai Ketua. Keduanya kemudian mengurus legalitas GDE hingga pada tahun 1937 gereja ini disahkan oleh pemerintah Belanda melalui Staatsblad.

Sejak saat itu, struktur organisasi GKE terus berkembang dan disempurnakan melalui berbagai persidangan sinode.

Saat ini, GKE terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, termasuk dalam relasinya dengan pemerintah, peraturan perundang-undangan, perkembangan teologi, serta dinamika kehidupan masyarakat.

GKE tetap mempertahankan nilai dan tradisi, antara lain penggunaan bahasa lokal Dayak dalam ibadah, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal, serta keterbukaan terhadap berbagai suku di Indonesia yang menjadi bagian dari GKE.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, gereja berupaya mengintegrasikan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Salah satu tonggak terpenting dalam perjalanan Sinode GKE adalah Peristiwa Barimba 1935, yang menjadi fondasi persatuan dan identitas gereja hingga kini.

Menurut Pdt Simpon, sejarah awal GKE mengajarkan nilai ketekunan, pengabdian, keberanian, dan kesetiaan iman. Nilai-nilai tersebut harus diwariskan kepada generasi muda agar mereka memahami akar iman GKE dan melanjutkan pelayanan dengan semangat yang sama.

Jika para perintis dahulu menghadapi tantangan fisik dan kultural, seperti medan berat dan penolakan adat, gereja saat ini menghadapi tantangan struktural dan kontekstual, yakni menjaga iman dan identitas di tengah globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai kehidupan.

Saat ini, GKE juga telah hadir di luar Kalimantan, khususnya di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Salatiga, Malang, dan Surabaya.

Jumlah Resort dan Calon Resort (Cares) GKE saat ini mencapai 135, dengan 96 Resort/Cares berada di Kalimantan Tengah. Data tersebut tercatat dalam Almanak Nasional GKE yang diperbarui setiap tahun.

Dalam momentum Natal dengan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, Pdt. Simpon mengajak seluruh jemaat memaknai keluarga sebagai ecclesia domestica, gereja pertama dan utama.

Ia berharap GKE di Kalimantan Tengah terus bertumbuh sebagai gereja yang berakar kuat pada iman Kristen dan budaya lokal, terbuka terhadap perubahan zaman, setia melayani masyarakat, menjaga kebersamaan lintas suku dan agama, serta merawat alam ciptaan Tuhan dengan kasih. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#Mandomai #Misionaris #Alkitab #perubahan zaman #kristen #pelayanan #budaya lokal #kalimantan tengah #GKE #jemaat #Pemerintah Belanda #lintas generasi #Sejarah gereja #gereja Dayak #Gereja Dayak Evangelis #kalimantan #pekabaran Injil #August Narang