Sejarah Islam di Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak hanya berkaitan dengan dakwah, pendidikan, dan pembentukan komunitas Muslim, tetapi juga terhubung erat dengan perjuangan melawan kolonialisme.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
KETUA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof Dr KH Khairil Anwar, mengungkapkan bahwa umat Islam Banjar dan masyarakat Dayak di kawasan Sungai Barito pernah bersatu dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda pada abad ke-19.
Menurut Prof. Khairil, persatuan Banjar dan Dayak dalam melawan kolonialisme merupakan bukti bahwa Islam di Kalimantan berkembang tidak hanya sebagai agama spiritual, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan nasionalisme yang menentang ketidakadilan.
“Pangeran Antasari berjuang melawan Belanda dengan perang gerilya. Banjar dan Dayak bersatu melawan kolonial. Ini simbol persatuan umat,” katanya, Selasa (10/2/2026).
Ia menuturkan bahwa tokoh sentral dalam perlawanan terhadap Belanda adalah Pangeran Antasari, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Pangeran Antasari memimpin perlawanan rakyat Banjar dan Dayak dalam
Perang Banjar yang berlangsung pada pertengahan abad ke-19.
Perlawanan dilakukan dengan strategi gerilya, memanfaatkan medan sungai, hutan, dan pedalaman Kalimantan yang sulit dijangkau pasukan kolonial. Sungai Barito menjadi jalur utama pergerakan pasukan, distribusi logistik, serta basis pertahanan rakyat.
Baca Juga: Sejarah Islam di Kalteng, Kiai Gede Dikenal Santun, Bijak, dan Memiliki Kemampuan Manajerial
“Perang itu tidak hanya perang fisik, tetapi juga perang ideologi. Islam menjadi spirit perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan kolonial,” jelasnya.
Salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah perlawanan tersebut adalah penenggelaman kapal perang Belanda Onrust di Sungai Barito pada 26 Desember 1859. Prof. Khairil menyebut peristiwa ini sebagai simbol kemenangan rakyat melawan kekuatan kolonial yang modern.
“Kapal Onrust itu kapal perang modern Belanda. Tapi berhasil ditenggelamkan oleh pasukan pejuang di Barito. Bangkainya masih bisa dilihat saat air surut,” ungkapnya.
Penenggelaman kapal Onrust menunjukkan kemampuan taktik dan keberanian pasukan Banjar dan Dayak dalam menghadapi armada kolonial yang jauh lebih unggul secara teknologi persenjataan.
Prof. Khairil menegaskan bahwa perlawanan rakyat Banjar dan Dayak tidak hanya dilandasi oleh faktor politik dan ekonomi, tetapi juga nilai-nilai keislaman yang menekankan keadilan, keberanian, dan pembelaan terhadap yang tertindas.
“Perlawanan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya membawa dakwah spiritual, tetapi juga semangat keadilan dan perjuangan melawan penindasan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ulama dan tokoh agama pada masa itu memainkan peran penting dalam membangkitkan semangat perlawanan, baik melalui khutbah, pengajian, maupun jaringan sosial masyarakat.
Menurutnya, keturunan Syekh Arsyad Al-Banjari dan jaringan ulama Banjar terus mengembangkan Islam di Kalimantan hingga saat ini. Jalur Sungai Barito menjadi koridor utama penyebaran Islam, pendidikan, dan perdagangan.
“Jalur penyebaran Islam itu lewat sungai. Dari Martapura, Nagara, Marabahan, sampai Barito. Semua berkembang lewat komunitas dan pendidikan,” ujarnya.
Para ulama dan murid-muridnya menyebarkan Islam sambil berdagang, membangun masjid, dan mengajarkan ilmu agama di berbagai daerah pedalaman seperti Buntok, Muara Teweh, Puruk Cahu, hingga Muara Untu. Model dakwah berbasis komunitas ini membentuk jaringan masyarakat Muslim yang kuat di sepanjang sungai.
Ketua MUI Kalteng ini menekankan bahwa persatuan Banjar dan Dayak dalam melawan kolonialisme merupakan contoh integrasi sosial dan budaya yang harmonis. Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa identitas keislaman dan ke-Dayak-an tidak saling meniadakan, tetapi justru saling menguatkan dalam perjuangan bersama.
“Banjar dan Dayak bersatu melawan kolonial. Ini pelajaran penting bahwa perbedaan etnis tidak menghalangi persatuan dalam keadilan,” tandasnya. (*bersambung/ala)
Editor : Ayu Oktaviana