Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Karungut di Ambang Redup, Bagaimana Peran Pemerintah Menjaga Warisan Leluhur  Agar Terus Bergema?

Kamila • Sabtu, 4 April 2026 | 14:45 WIB
Karungut menjadi simbol kesenian Kalteng. ILUSTRASI
Karungut menjadi simbol kesenian Kalteng. ILUSTRASI

 

PALANGKA RAYA- Salah satu warisan seni suara yang memiliki nilai budaya tinggi adalah karungut, sebuah seni bertutur khas Dayak yang sarat pesan moral. 

Sayangnya, minimnya even dan ruang pertunjukan membuat Karungut di ambang keredupan.

Bagaimana peran pemerintah menjaga warisan leluhur ini agar terus bergema?

Pemusik senior karungut Kalteng, Chendana Putra (Antang Malom), menilai keberadaan karungut hingga kini masih bertahan meski menghadapi berbagai tantangan zaman.

Chendana Putra menyampaikan bahwa karungut telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Namun di sisi lain, ia melihat adanya pergeseran dari pakem atau aturan asli yang selama ini menjadi dasar dalam seni karungut.

Perkembangan tersebut merupakan hal yang wajar tetapi perlu tetap menjaga nilai dan karakter aslinya agar tidak hilang ditelan arus modernisasi musik.

“Karungut mengalami masa dan berkembang, tetapi juga mulai bergeser dari pakemnya,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (5/3/2026).

Sebagai seorang seniman yang tumbuh dari lingkungan budaya Dayak, Chendana Putra mengaku karungut memiliki makna yang sangat mendalam dalam hidupnya. Baginya, karungut bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya yang lahir dari tradisi seni suara masyarakat Dayak.

Ia menuturkan karungut merupakan salah satu identitas budaya yang berasal dari mazhab tradisi, khususnya dalam seni suara. Oleh karena itu, keberadaannya harus terus dijaga agar generasi mendatang tetap mengenal dan memahami akar budaya mereka sendiri.

Karungut bagi saya adalah salah satu identitas yang lahir dari mazhab tradisi, terutama dalam seni suara Dayak,” kata Chendana.

Perjalanan Chendana Putra dalam dunia karungut dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikannya terhadap seni tersebut tumbuh secara alami karena lingkungan keluarga yang sangat dekat dengan dunia karungut. 

Sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan bermusiknya adalah sang ayah, Syaer Sua, yang dikenal sebagai maestro besar karungut Dayak Kalimantan Tengah.

Ia mengaku darah seni yang mengalir dari sang ayah menjadi sumber inspirasi sekaligus motivasi untuk terus menjaga tradisi karungut hingga saat ini.

“Perjalanan saya dimulai sejak SD sampai sekarang. Sumber darah dan inspirasi saya adalah ayahanda saya, seniman besar karungut Dayak Kalteng, Bapak Syaer Sua,” ungkapnya.

Dalam membawakan karungut Chendana Putra mengatakan terdapat sejumlah unsur penting yang harus dijaga agar kualitas dan pesan dalam lagu tetap tersampaikan dengan baik. Unsur tersebut meliputi teknik vokal, lirik, tempo hingga keseimbangan musik pengiring yang digunakan dalam pertunjukan.

Ia menegaskan bahwa karungut tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga menyampaikan pesan dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam setiap baitnya.

“Yang paling penting adalah suara, lirik, teknik, tempo, serta isi karungut yang dilantunkan, juga keseimbangan musik pengiringnya,” jelasnya.

Menurut Chendana Putra, inovasi juga perlu dilakukan agar karungut dapat lebih diterima oleh generasi masa kini. Namun inovasi tersebut harus tetap memperhatikan nilai dan pakem dasar agar tidak menghilangkan karakter aslinya sebagai seni tradisional.

“Sangat perlu inovasi agar karungut menjadi khazanah yang digandrungi generasi sekarang,” katanya.

Sementara itu, ia menilai peran sekolah dan lembaga seni dalam pelestarian karungut masih belum optimal. Ia berharap lembaga pendidikan dapat memberikan ruang lebih besar bagi pengenalan seni tradisional kepada generasi muda.

“Peran sekolah dan lembaga seni sejauh ini masih jalan di tempat, hanya sebagai pelengkap saja,” ujarnya.(afa/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#budaya Dayak #seni tradisional #karungut #dayak kalteng