SAMPIT- Dari sebuah rumah, di Jalan DI Panjaitan, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) suara gerinda terus terdengar memecah siang.
Percikan api sesekali muncul saat sebilah besi dibentuk perlahan menjadi pisau sembelih.
Baca Juga: Iduladha 2026, Mau Cari Sapi Limousin Murah Meriah di Palangka Raya, Langsung Datang ke Mahir Mahar
Di tangan Mang Iin, besi mata gergaji berubah menjadi alat yang nantinya dipakai warga untuk berkurban saat Iduladha.
Sudah sekitar lima tahun terakhir Mang Iin menekuni pembuatan pisau secara rumahan.
Awalnya bukan untuk bisnis besar-besaran, melainkan sekadar menyalurkan hobi yang lama ia sukai.
“Awalnya memang hobi aja. Suka pisau, suka bikin-bikin, akhirnya keterusan sampai sekarang,” ujarnya sambil merapikan bilah pisau di rumahnya, Kamis (14/5/2026)
Dari hobi itu, perlahan datang pesanan.
Terutama menjelang Iduladha, ketika kebutuhan pisau sembelih mulai meningkat.
Dalam momen tertentu, produksinya bahkan bisa mencapai puluhan bilah.
“Tahun kemarin untuk pisau sembelih sekitar 40-an ada. Kalau pisau seset bisa sampai seratusan,” katanya.
Pisau buatannya memiliki jenis berbeda sesuai fungsi. Pisau sembelih dibuat lebih panjang dengan ukuran sekitar 25 hingga 40 sentimeter, sedangkan pisau seset cenderung pendek dan ringan.
Semua proses masih ia kerjakan sendiri dan handmade. Mulai dari membentuk besi, menggerinda, hingga membuat sarung pisaunya. Bahan utama yang dipakai pun bukan besi biasa, melainkan mata gergaji circular.
Baca Juga: Harga Hewan Kurban di Sampit Naik Jelang Iduladha, Imbas Kenaikan BBM
“Itu dari gergaji circle. Kita bentuk sendiri pakai gerinda dan dibentuk,” ucapnya.
Meski terlihat sederhana, proses membuat satu pisau sembelih ternyata tidak sebentar.
Mang Iin membutuhkan waktu hingga sepekan untuk menyelesaikan satu bilah secara penuh.
“Kalau pisau sembelih agak lama. Yang paling susah itu bikin mata bilahnya supaya tajam dan pas,” jelasnya.
Berbeda dengan pisau seset yang bisa selesai dalam satu hingga dua hari, pisau sembelih memerlukan ketelitian lebih tinggi.
Sedikit saja salah saat mengikis mata pisau, bentuk dan ketajamannya bisa berubah.
Menariknya, kemampuan membuat pisau itu tidak ia dapat dari kursus khusus. Mang Iin mengaku belajar secara otodidak melalui video di YouTube dan komunitas pecinta pisau di media sosial.
Baca Juga: Cara Masak Daging Sapi Empuk Tanpa Presto, Cukup Pakai 3 Trik Rahasia Ini!
“Belajarnya dari YouTube sama grup-grup perpisauan. Paling dua mingguan sampai satu bulan sudah mulai bisa,” katanya.
Kini hasil buatannya tidak hanya dipakai warga Sampit. Beberapa pesanan bahkan datang dari luar daerah, termasuk hingga Palu.
“Ada yang pesan sampai luar daerah juga. Kemarin terakhir ke Palu, mereka pesan pisau sama sarungnya,” ungkapnya.
Soal harga, pisau produksinya dijual mulai Rp300 ribuan. Selain itu, ia juga menjual pisau lokal dan pisau impor. Harganya beragam.
Dari Rp300 ribu hingga sekitar Rp1 juta, tergantung jenis bahan dan tingkat kesulitannya. Namun kebanyakan pembeli memilih produk lokal dengan harga sekitar Rp500 ribuan.
“Kalau yang umum biasanya cari yang lokal sekitar Rp500 ribu. Yang mahal biasanya bahan import, stainless, atau baja khusus,” jelasnya.
Menjelang Iduladha tahun ini, Mang Iin mulai kembali rutin memproduksi pisau. Biasanya dua bulan sebelum hari raya, aktivitas di rumahnya mulai lebih sibuk dibanding hari biasa.
Bagi Mang Iin, usaha kecil itu bukan sekadar soal jual beli pisau. Ada kepuasan tersendiri ketika hasil tangannya dipakai orang lain untuk kebutuhan ibadah kurban.
Perbedana pisau produksi Mang Iin dengan pisau pasaran adalah ketajaman dan kualitasnya. Ia menjamin, pisau yang ia jual memiliki ketajaman standar sembelih.
“Yang penting kualitas sama ketajamannya. Itu yang paling dicari orang,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana