Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Nor Faridatunnisa, Juara MTQ KORPRI Kalteng yang Tawarkan Cara Baru Berantas Korupsi

rifqi • Rabu, 15 Juli 2026 | 15:30 WIB
Nor Faridatunnisa menjadi juara 1 pada MTQ KORPRI VIII Kalteng.(Dok Pribadi)
Nor Faridatunnisa menjadi juara 1 pada MTQ KORPRI VIII Kalteng.(Dok Pribadi)

PALANGKA RAYA-Alih-alih hanya menyoroti penegakan hukum, Nor Faridatunnisa menawarkan pendekatan berbeda dalam pemberantasan korupsi. Dosen UIN Palangka Raya itu menggabungkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan falsafah Dayak Belom Bahadat melalui model ASA-Bahadat, gagasan yang membawanya meraih juara pada MTQ KORPRI VIII Kalteng dan mengantarkannya mewakili provinsi ke tingkat nasional. 

Korupsi, bagi Nor Faridatunnisa, bukan sekadar persoalan hukum. Di balik setiap kasus yang terungkap, ia melihat ada persoalan yang lebih mendasar, yakni lemahnya mental dan spiritual aparatur.

Berangkat dari pemikiran itulah dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Palangka Raya itu menyusun karya tulis ilmiah yang mengantarkannya menjadi juara pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) KORPRI VIII Provinsi Kalteng cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.

“Saya menyoroti terkait kurangnya sentuhan mental dan spiritual dalam penanganan korupsi. Sehingga masih berlanjut hingga sekarang. Maka saya mencoba menawarkan model ASA-Bahadat sebagai bentuk integrasi antara ajaran agama dan kearifan lokal Dayak,” ujarnya awal Juli lalu.

Menariknya, tema yang ia bahas bukan dipilih sendiri. Sehari sebelum perlombaan, seluruh peserta mengikuti pengundian tema. Saat itu, ia mendapatkan tema Birokrasi Bersih.

“Awalnya sebenarnya saya berharap mendapat tema ekoteologi. Tapi hasil undian justru birokrasi bersih,” katanya.

Tema tersebut justru membawanya mencari akar persoalan korupsi dari sudut pandang yang berbeda. Ia menilai selama ini penanganan korupsi lebih banyak berfokus pada aspek struktural melalui penegakan hukum, digitalisasi pelayanan, maupun pengawasan, sementara pembentukan karakter aparatur belum menjadi perhatian utama.

Melalui karya ilmiahnya, Nor memperkenalkan konsep ASA-Bahadat, yaitu integrasi tiga nilai Qur’ani Amanah, Syura, dan Anti-Fasad dengan falsafah Dayak Belom Bahadat sebagai fondasi membangun birokrasi yang bersih dan berintegritas. Gagasan tersebut menjadi inti presentasi yang dipaparkannya di hadapan dewan juri. 

Menurutnya, nilai-nilai budaya Dayak memiliki banyak keselarasan dengan ajaran Islam, terutama mengenai kejujuran, tanggung jawab, musyawarah, serta penolakan terhadap segala bentuk kerusakan dan penyimpangan.

“Pada dasarnya banyak nilai Dayak yang sejalan dengan ajaran Islam. Nah, itu yang saya coba tawarkan,” katanya.

Meski proses perlombaan berlangsung hanya delapan jam tanpa akses internet maupun alat komunikasi, persiapannya telah dilakukan jauh sebelumnya. Ia membiasakan diri membaca berbagai referensi setiap pagi, terutama sebelum atau sesudah salat Subuh.

“Sehari sebelum lomba saya tinggal mengumpulkan bahan bacaan yang sekiranya berkaitan. Saat lomba tinggal mengolah data yang ada,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya, ada dukungan penuh dari keluarga. Selama dirinya fokus mengikuti perlombaan, sang suami mengambil alih tanggung jawab mengurus anak-anak di rumah.

“Alhamdulillah, suami tidak pernah mempermasalahkan. Bahkan selama seminggu kegiatan lomba, anak-anak beliau yang pegang,” katanya.

Saat kabar kemenangan diumumkan, kebahagiaan justru paling terasa di rumah.

“Anak-anak senang sekali. Waktu saya berangkat mereka sebenarnya ingin ikut, tapi tidak memungkinkan. Saya sempat berjanji akan memberikan yang terbaik. Itu yang membuat saya terus berusaha,” tuturnya.

Kini, kemenangan tersebut membuka jalan baru. Nor dijadwalkan mewakili Kalimantan Tengah pada tingkat nasional yang akan berlangsung di Makassar.

Namun tantangan berikutnya tak kalah berat. Seperti di tingkat provinsi, tema lomba nasional juga akan diundi sehari sebelum perlombaan. Tiga tema yang harus ia kuasai adalah Ekoteologi, Ketahanan Pangan, dan Birokrasi Bersih.

“Ketiga tema itu harus saya siapkan semuanya karena baru diketahui sehari sebelum lomba melalui undian,” ujarnya.

Persiapan menuju tingkat nasional pun mulai dilakukan. Selain memperkaya bahan bacaan, ia juga akan mengikuti pembinaan bersama pelatih yang ditunjuk oleh ofisial.

“Persiapan saya tetap fokus pada bahan seperti sebelumnya. Mungkin nanti juga akan ada bimbingan dengan pelatih dari ofisial,” katanya.

Meski keluarga tetap menjadi penyemangat terbesar, ia memilih berangkat sendiri ke Makassar. Baginya, format lomba yang mengharuskan peserta menulis selama delapan jam penuh tanpa komunikasi membuat konsentrasi menjadi hal yang utama.

“Justru akan lebih fokus kalau anak-anak di rumah saja,” ujarnya.

Bagi Nor, kemenangan ini bukan sekadar prestasi pribadi. Ia berharap gagasan yang lahir dari perpaduan nilai-nilai Al-Qur’an dan kearifan lokal Dayak dapat menjadi inspirasi dalam membangun birokrasi yang lebih berintegritas. 

Sebab, menurutnya, birokrasi yang bersih tidak hanya dibangun oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran moral yang tumbuh dari dalam diri setiap aparatur. Sebuah pesan yang juga menjadi penutup karya ilmiahnya: melayani rakyat adalah ibadah dan amanah tertinggi. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
MTQ KORPRI VIII Kalteng uin palangka raya korupsi birokrasi