PALANGKA RAYA-Hari pertama pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Kota Palangka Raya tidak hanya menjadi awal perjalanan pendidikan bagi para siswa, tetapi juga menjadi momentum lahirnya harapan baru bagi para orang tua.
Selasa (14/7/2026), halaman Sekolah Rakyat Kota Palangka Raya di Jalan Tjilik Riwut Km 39, Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu dipenuhi langkah-langkah kecil yang membawa koper, tas, dan perlengkapan sederhana.
Baca Juga: Wali Kota Palangka Raya Membuka MPLS Sekolah Rakyat, Tekankan Pembangunan Karakter
Di balik wajah anak-anak yang bersiap memulai kehidupan baru di asrama, berdiri para orang tua yang berusaha tersenyum meski sesekali menyembunyikan rasa haru. Mereka datang bukan sekadar mengantar anak bersekolah tetapi menitipkan harapan agar masa depan keluarga dapat berubah melalui pendidikan.
Kegiatan tersebut juga turut dihadiri dan dibuka oleh Pemerintah Kota Palangka Raya terutama Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin bersama jajaran forkopimda dan lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Kegiatan MPLS pagi itu tidak hanya diisi oleh kegiatan pembukaan resmi tetapi juga ada serangkaian kegiatan seperti melakukan tes kesehatan dengan tenaga kesehatan yang telah siap di salah satu sisi ruangan khususnya bagi siswa yang akan masuk ke sekolah rakyat.
Salah satunya Linda Nur Indrasari, warga Kecamatan Bukit Batu. Dengan mata yang terus mengikuti langkah putra sulungnya menuju lingkungan sekolah, Linda mengaku rela memindahkan anaknya dari SMP Negeri 5 Palangka Raya ke Sekolah Rakyat. Baginya, kesempatan mendapatkan pendidikan gratis sekaligus pembinaan karakter merupakan peluang yang tidak boleh disia-siakan.
“Saya datang ke sini untuk menemani sekaligus mengantar anak saya sekolah di Sekolah Rakyat. Sebelumnya dia sekolah di SMP Negeri 5 Palangka Raya, lalu saya pindahkan ke sini karena informasinya sekolahnya bagus dan saya ingin anak bisa lebih mandiri,” tuturnya.
Keputusan mengizinkan anak tinggal di asrama bukan perkara mudah bagi seorang ibu. Namun Linda percaya, kemandirian dan pendidikan yang layak akan menjadi bekal penting bagi masa depan anaknya. Ia yakin perpisahan sementara dengan keluarga akan terbayar dengan pengalaman hidup dan pendidikan yang lebih baik.
“Saya sangat mengizinkan anak berasrama. Mudah-mudahan sekolah ini bisa membantu anak-anak yang membutuhkan pendidikan, terutama bagi orang tua yang kurang mampu dan anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah secara gratis,” ungkap ibu dari Bude Aprilio tersebut penuh harap.
Harapan serupa juga tampak dari banyak keluarga yang memenuhi kawasan sekolah sejak pagi. Sekolah Rakyat menjadi simbol hadirnya kesempatan yang lebih setara bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi.
Tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga lingkungan pembentukan karakter melalui sistem pendidikan berasrama yang diharapkan mampu melahirkan generasi mandiri, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Komitmen pemerintah menghadirkan fasilitas pendidikan yang representatif juga terlihat dari proses pembangunan sekolah yang terus dikebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Kalteng Pos dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Kasatker Sarana Prasarana Strategis, Merry, menyampaikan bahwa kawasan Sekolah Rakyat Kota Palangka Raya berdiri di atas tanah seluas sekitar 8,7 hektare. Proses pembangunan ditargetkan rampung pada 11 September 2026 dengan progres fisik yang kini telah mencapai 89 persen.
“Awalnya kami memperkirakan membutuhkan tanah 10 hektare, tetapi 8,7 hektare ini sudah mencukupi. Untuk bangunannya sendiri terbagi dalam empat titik lokasi, dengan masing-masing lokasi terdiri atas sekitar 23 sampai 24 massa bangunan,” jelas Merry saat ditanyai.
Adapun luas lahan yang digunakan dalam pembangunan mencapai 7, 544 hektare dengan total luas bangunan 27.150 meter persegi.
Di balik deretan bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian itu, tumbuh harapan baru bagi ratusan anak yang kini mulai menapaki perjalanan pendidikannya.
Bagi para orang tua, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi simbol bahwa keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
Dari Km 39 inilah, mereka berharap langkah kecil anak-anak hari ini akan mengantarkan mereka menuju masa depan yang lebih cerah, sekaligus membuka jalan bagi perubahan nasib keluarga melalui pendidikan.(*)
Editor : Ayu Oktaviana