SAMPIT- Ganasnya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat petugas kewalahan. Alhasil para relawan swadaya turun tangan untuk memberikan bantuan. Salah satunya Muhammad Rizky Mubarrak.
Bersama sejumlah relawan, remaja berusia 18 tahun itu rela menembus api agar kebakaran lahan tidak merembet ke pemukiman warga. Namun sore itu, tubuh pemuda tersebut akhirnya tak mampu lagi bertahan.
Baca Juga: Relawan Karhutla Kotim Sesak Napas Usai Berjibaku Padamkan Api di Sejumlah Titik
Rizky nampak masih belum pulih total saat ditemui Kaltengpos.jawapos.com di rumahnya, Jalan Ir Haji Juanda, Kamis (20/8/2026) sore.
Di lipatan tangan kanannya, perban penutup bekas injeksi infus masih terpasang. jalannyapun masih terlihat sedikit lemas setelah malam sebelumnya ia mendapat perawatan medis di rumah sakit.
Kisah heroik Rizky berawal pada Rabu (19/8/2026). Rizky yang merupakan relawan ketapi III dan rekan-rekannya telah bergerak sejak pukul 12.20 WIB untuk medamkan api di sejumlah kebakaran lahan di Kota Sampit.
Mereka telah mendatangi beberapa titik kebakaran sebelum akhirnya melakukan pemadaman di Jalan HM Arsyad Kilometer 4. Lokasi kebakaran tidak berada tepat di pinggir jalan.
Para relawan harus masuk sekitar 300 meter ke dalam area lahan untuk menjangkau titik api. Mereka membentangkan selang dan bergerak di tengah semak-semak serta asap yang semakin tebal.
Baca Juga: Redkar Kotim Bertambah, Kini 250 Relawan Siaga Bantu Penanganan Kebakaran
Rizky mengaku sebelumnya dalam kondisi sehat. Namun, kondisi udara di lokasi perlahan mulai memengaruhi tubuhnya. Seharusnya, ia memang digantikan oleh regu lain saat kejadian pukul pukul 17.00 WIB.
Namun, karena semangatnya tetap membara, Rizky memilih kemabali ikut dalam operasi pemadaman di regu kedua. Namun, tubuhnya tak mampu menahan lelah akibat ganasnya Karhutla.
“Awalnya saya mulai merasa sesak napas. Asap di lokasi cukup tebal dan kami berada cukup lama di dalam area kebakaran,” ujarnya.
Selain sesak, kepalanya juga mulai terasa sakit dan pusing. Kondisi tersebut semakin memburuk hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Ia kemudian harus dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapat perawatan medis. Peristiwa itu menjadi pengalaman paling berat yang pernah dialaminya selama menjadi relawan.
Baca Juga: Superman Muncul di Tengah Karhutla Palangka Raya, Ada Kisah Sedih Melekat Diingatan Rudiyansah
“Selama ini saya sudah cukup sering ikut pemadaman. Tapi kejadian kemarin memang yang paling berat karena sampai pingsan,” katanya.
Rizky bukanlah relawan baru. Ketertarikannya terhadap kegiatan pemadaman sudah muncul sejak masih duduk di bangku SMP. Dari rasa tertarik itulah, ia mulai bergabung dan mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan.
Kini, sudah lebih dari tiga tahun ia turun ke lapangan. Selama menjadi relawan, ia mengaku tidak pernah mendapatkan gaji maupun insentif. Aktivitas tersebut dilakukan secara sukarela.
“Tidak ada gaji atau imbalan. Saya ikut karena memang tertarik dan ingin membantu. Selama ini yang paling banyak saya dapat adalah pengalaman,” katanya.
Pengalaman itulah yang membuat Rizky tetap bertahan. Bahkan, meski baru saja mengalami kejadian yang membuatnya harus mendapatkan penanganan medis, ia tidak berniat meninggalkan kegiatan kerelawanan.
Baca Juga: Asap Karhutla di Kalimantan Mulai Mengancam Negara Tetangga
Setelah kondisi tubuhnya pulih, Rizky justru berencana kembali bergabung bersama rekan-rekannya.
“Saya mau istirahat dulu dan lebih menjaga kondisi tubuh. Mungkin satu minggu. Kalau sudah pulih, saya tetap ingin ikut lagi,” ujarnya.
Dapat Restu dari Sang Ibu
Keinginannya itu didukung sang ibu, Erni (46). Wanita yang sehari-hari merupakan buruh pengupas bawang harian itu mengaku tidak akan melarang anaknya untuk kembali menjalankan tugas mulia. Baginya, selama kegiatan itu positif dan menjadi kesenangan sang anak, ia akan mengizinkan.
“Ga melarang kalau mau ikut relawan lagi. Selama positif bagi dia silahkan saja,” katanya.
Ia mengaku sempat terkejut Ketika mendapat kabar anak kedua dari dua bersaudara itu masuk rumah sakit. Ia mengeahui kabar tersebut usai diberitahukan RT di sekitar rumahnya.
“Kaget anak ini kenapa bisa sampai masuk rumah sakit. Pak RT waktu itu yang memberi tahu,” imbuhnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana