Muhammad Rizky Mubarrak, Anak Pengupas Bawang Bercita-cita Jadi Petugas Damkar

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Rizky Mubarrak, relawan damkar yang sempat terkapar saat padamkan karhutla.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Rizky Mubarrak, relawan damkar yang sempat terkapar saat padamkan karhutla.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT- Menjadi relawan pemadam kebakaran bukan pekerjaan yang menjanjikan gaji bagi Rizky Mubarrak, remaja asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Tidak ada upah rutin, tidak ada kepastian kapan harus turun, bahkan risiko kesehatan dan keselamatan selalu mengintai ketika api mulai muncul. 

Baca Juga: Relawan Karhutla Kotim Sesak Napas Usai Berjibaku Padamkan Api di Sejumlah Titik

Namun, selama lebih dari tiga tahun terakhir, pemuda berusia 18 tahun tersebut tetap memilih berada di antara para relawan yang bergerak ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

Perjalanan Rizky menjadi relawan ketapi III dimulai sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia mulai tertarik dengan aktivitas kerelawanan dan kegiatan pemadaman kebakaran.

Dari kegiatan yang awalnya hanya berangkat dari rasa tertarik itu, kini tumbuh sebuah cita-cita. Rizky ingin suatu hari nanti menjadi seorang pemadam kebakaran.

Ketertarikan tersebut tidak berhenti sebagai rasa penasaran. Rizky kemudian mulai ikut bergabung dan belajar dari pengalaman di lapangan.

“Awalnya memang karena tertarik. Dari situ saya mulai ikut dan sampai sekarang sudah lebih dari tiga tahun,” katanya Kamis (20/8/2026) sore. 

Baca Juga: Kisah Muhammad Rizky Mubarak, Relawan Damkar Asal Kotim yang Pingsan saat Padamkan Karhutla

Seiring waktu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika ada kebakaran, Rizky kerap ikut bergerak bersama rekan-rekan relawan. Ia mengaku tidak pernah menjadikan uang sebagai alasan untuk bertahan.

Rizky sendiri merupakan anak kedua. Ia tinggal di sebuah kontrakan kayu Bersama ibu, dan neneknya. Ibunya, Erni (46) berprofesi sebagai pengupas bawang harian. 

Upahnya pas-pasan. Seribu rupiah per kilogram. Jika ada bawang satu hari, sang ibu bisa mendapatkan hasil Rp25 ribu.

“Selama menjadi relawan tidak ada gaji atau insentif. Kami memang bergerak secara sukarela,” ujarnya, saat dibincangi di rumahnya Jalan Ir Haji Juanda. 

Meski tanpa imbalan, Rizky merasa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni pengalaman. Pengalaman itu didapat dari berbagai situasi di lapangan. Mulai dari menghadapi api, masuk ke kawasan kebakaran, hingga bekerja dalam kondisi asap yang dapat mengganggu pernapasan dan pandangan.

Baca Juga: MUI Kotim Imbau Umat Islam Gelar Salat Istisqa Imbas Kabut Asap Karhutla

Salah satu lokasi kebakaran yang paling membekas baginya adalah kawasan yang dipenuhi asap hingga membuat mata terasa pedih. Namun, dari seluruh pengalaman tersebut, kejadian pada Rabu (19/8/2026) menjadi yang paling berat. Saat itu, pingsan saat berupaya menjinakkan api di Jalan H.M. Arsyad Kilometer 4.

Meski demikian, peristiwa tersebut tidak membuatnya ingin berhenti. Setelah mendapatkan penanganan dan kondisi kesehatannya membaik, Rizky telah memiliki rencana untuk kembali bergabung. Ia memilih beristirahat sekitar satu minggu sambil memulihkan kondisi tubuh.

Keinginan untuk kembali itu juga didukung oleh cita-cita yang ingin diwujudkannya. Rizky ingin menjadi pemadam kebakaran.Selama bertahun-tahun menjadi relawan, ia merasa telah mendapatkan pengalaman yang dapat menjadi bekal. 

Ia memahami bahwa pekerjaan tersebut tidak mudah. Ada risiko yang harus dihadapi, terutama ketika harus berhadapan langsung dengan api dan asap. Namun, hal tersebut tidak mengurangi keinginannya.

“Dari pengalaman selama menjadi relawan, saya Insyaallah ingin menjadi damkar. Saya sudah tahu sedikit bagaimana kondisi di lapangan dan ingin terus belajar,” katanya.

Baca Juga: Sering Terjadi Karhutla Muncul Kreativitas, Warga Graha Pramuka Sampit Rakit Alat Pemadam

Bagi pemuda itu sendiri, pengalaman pingsan saat bertugas menjadi pelajaran untuk lebih memperhatikan keselamatan. Ia berharap perlengkapan seperti masker, kacamata, helm, sarung tangan, dan sepatu boots dapat semakin diperhatikan.

“Mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah untuk peralatan keselamatan kita relawan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Relawan Ketapi III Muhammad Mahdani mengatakan, kegiatan kerelawanan di Sampit masih banyak mengandalkan semangat gotong royong dan swadaya.

Relawan Ketapi III sendiri dibentuk pada Desember 2022 dengan tujuan membantu masyarakat, termasuk dalam penanganan kebakaran. Selain armada pemadam, kelompok tersebut juga memiliki layanan ambulans gratis.

Hingga saat ini, sebagian besar anggota yang bergabung adalah kaum muda. Mereka menjalankan kegiatan tanpa menerima gaji.

Baca Juga: Superman Muncul di Tengah Karhutla Palangka Raya, Ada Kisah Sedih Melekat Diingatan Rudiyansah 

“Dari awal pembentukan sampai sekarang, anggota kami memang bergerak secara sukarela. Tidak ada gaji atau pendapatan tetap,” katanya.

Untuk menjalankan operasional, para relawan masih mengandalkan bantuan dan swadaya. Mahdani mengatakan, kebutuhan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan armada dan selang, tetapi juga keselamatan para personel.

Kondisi karhutla yang semakin meluas membuat tantangan para relawan bertambah. Salah satu kendala yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan sumber air karena sejumlah sungai kecil dan parit mulai mengering. Di sisi lain, paparan asap juga menjadi ancaman bagi kesehatan para relawan. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
asap relawan karhutla pemadam kebakaran