Niatnya sederhana: menyelamatkan rumah warga dari kobaran api. Namun, tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berubah menjadi pengalaman paling berat bagi Maulana Adi Saputra. Relawan berusia 20 tahun itu terjebak ketika arah angin berubah, membuat api menyambar tubuhnya hingga mengalami luka bakar
PALANGKA RAYA-Bagi Maulana Adi Saputra, menjadi relawan pemadam kebakaran bukan sekadar aktivitas. Selama sekitar tiga hingga empat tahun, ia terbiasa turun ke lapangan ketika kabar kebakaran datang. Ada satu alasan yang sejak awal membuatnya bertahan: keinginan membantu orang lain.
Cita-cita masa kecilnya sebenarnya sederhana. Maulana ingin menjadi pemadam kebakaran. Namun, cita-cita itu tidak sempat terwujud melalui jalur resmi. Ia kemudian memilih jalan lain dengan bergabung sebagai relawan.
Baca Juga: Dua Relawan Karhutla di Kalteng Meninggal Dunia, Gugur Setelah Berjuang Padamkan Api
“Saya ingin membantu semua manusia yang kesusahan. Cita-cita saya dulu waktu kecil ingin jadi pemadam, karena tidak kesampaian, saya cuma bisa gabung di dunia relawan,” tuturnya.
Selama menjadi relawan, berbagai situasi kebakaran telah ia hadapi. Namun, kejadian di Jalan Yos Sudarso XVIII menjadi pengalaman paling parah yang pernah dialaminya.
Senin (24/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, laporan kebakaran masuk ketika Maulana bersama rekan-rekannya masih berada di posko karhutla. Bersama tim, ia kemudian bergerak menuju lokasi.
Saat tiba, kondisi api sudah cukup besar dan merembet ke berbagai arah. Di lokasi tersebut terdapat sejumlah rumah warga yang berada tidak jauh dari lahan terbakar.
Bagi Maulana dan rekan-rekannya, pilihan untuk masuk ke bagian dalam lahan bukan tanpa alasan. Mereka berusaha memutus kobaran api sebelum merambat lebih jauh dan menyambar rumah warga.
“Kondisi api sudah sangat dekat dengan rumah warga. Jadi kami masuk ke dalam, kami berupaya mematikan yang di dalam supaya tidak merembet ke arah rumah warga,” katanya.
Lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut dengan semak dan pepohonan. Kondisi tersebut membuat api mudah bergerak, terlebih angin saat itu bertiup cukup deras.
Pemadaman pun dilakukan dengan keterbatasan sumber air. Tim menggunakan tangki untuk menyiram area yang terbakar. Di tengah proses pemadaman, keadaan tiba-tiba berubah.
Api yang sebelumnya berada di sisi kanan Maulana bergerak mengikuti arah angin. Jalur yang semula menjadi akses keluar justru tertutup kobaran api. “Api itu dari kanan. Saya keluar, api itu di kanan, anginnya mengarah ke kiri. Jadi api itu ke arah badan,” ujarnya.
Baca Juga: RSUD dr Murjani Sampit Berikan Pengobatan Gratis untuk Relawan Karhutla Kotim
Maulana menjadi orang terakhir yang keluar dari lokasi tersebut. Namun, ketika berusaha menyelamatkan diri, api menyambar tubuhnya. Baju yang dikenakannya ikut terbakar. Seketika tubuhnya terasa panas. Rekan-rekan yang berada di lokasi langsung berupaya menyelamatkannya.
“Mereka juga sudah muntah-muntah, tapi mereka sempat menyelamatkan saya dulu,” katanya.
Air kemudian disiramkan ke tubuh Maulana untuk mengurangi panas akibat luka bakar. Ia mengaku tidak sempat berteriak ataupun berguling-guling. Saat itu, yang dirasakan hanya panas yang menyengat. “Saya cuma kepanasan. Langsung disiram air sama teman-teman untuk mengurangi panasnya,” tuturnya.
Ironisnya, rasa sakit akibat luka bakar tidak langsung begitu terasa.
Setelah meninggalkan lokasi dan pulang pada malam hari, Maulana baru menyadari kondisi tubuhnya. Kulit di sejumlah bagian tubuhnya sudah melepuh, bergelembung dan berair.
Ia kemudian mendapat penanganan medis. Berdasarkan keterangan dokter, luka bakar yang dialaminya mencapai sekitar 75 persen pada bagian kanan tubuh dan wajah.
Baca Juga: Relawan Karhutla Meninggal, Wali Kota Fairid Langsung Evaluasi! Wajib Cek Kesehatan
“Hasilnya bisa dibilang lumayan parah. Sekitar 75 persen,” katanya.
Kejadian tersebut juga tidak hanya berdampak kepada Maulana. Rekan-rekan yang berada bersamanya di dalam area kebakaran turut mengalami kesulitan bernapas akibat kepungan asap dan api.
“Semua teman saya yang di dalam itu pada saat keluar muntah-muntah semua, karena tidak bisa napas. Kekepung asap, kekepung api, angin yang deras,” ungkapnya.
Namun, bagi Maulana, keputusan masuk ke dalam lahan tetap memiliki alasan yang jelas.
Jika api di bagian dalam dibiarkan, kobaran berpotensi bergerak menuju permukiman. Karena itu, mereka memilih mengamankan bagian yang paling dekat dengan rumah warga terlebih dahulu.
“Kalau kami tidak memadamkan api yang di dalam itu, pasti api merembet ke rumah warga. Jadi satu-satunya cara, kami memadamkan yang di sekitar rumah warga dulu, baru yang di pinggir-pinggirnya,” jelasnya.
Baca Juga: Kisah Muhammad Rizky Mubarak, Relawan Damkar Asal Kotim yang Pingsan saat Padamkan Karhutla
Ada sekitar lima rumah warga yang berada di sekitar lokasi tersebut, dengan rumah lainnya juga berada di bagian belakang area yang terbakar.
Kini, setelah mengalami luka bakar cukup serius, Maulana memiliki satu harapan sederhana untuk karhutla di Palangka Raya.
Ia ingin kebakaran segera berakhir. Bukan hanya agar masyarakat terbebas dari ancaman api, tetapi juga agar relawan yang berada di garis depan tidak kembali mengalami kejadian serupa.
“Harapannya semoga karhutla ini cepat selesai, cepat dituntaskan. Untuk teman-teman yang di lapangan juga semoga tidak terjadi lagi seperti saya,” ujarnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana