Kisah Fadil, Driver Ojol yang Tetap Bekerja di Tengah Asap: Kalau Gak Kerja, Kami Makan Apa?
Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 16:00 WIB
Ojol di Sampit terdampak kabut asap.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)SAMPIT – Sudah hampir dua pekan, asap pekat menutup sinar matahari di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bahkan dalam beberapa hari terakhir, warna kekuningan menyelimuti kota berjuluk Kota Mentaya ini.Asap tebal memang menjadi makanan sehari-hari warga Sampit beberapa waktu belakangan. Maraknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus level berbahaya.
Masyarakat pun khawatir. Pasalnya, jika sering terpapar asap, tubuh manusia rentan terpapar sejumlah penyakit pernapasan seperti ISPA. Warga pun harus mengurangi aktivitas di luar ruangan.Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa aktivitas warga di Kalimantan masih normal usai ia berkunjung ke Kalteng. Ia mengklaim, lalu lintas hingga pertokoan masih berjalan sebagaimana mestinya.Namun, apakah hal itu mengindikasikan Kalimantan masih baik-baik saja?Fadil, salah seorang driver ojek online (ojol) di Sampit, mengatakan mereka mau tak mau harus ke luar rumah meski cuaca sangat berbahaya. Bagi mereka yang menggantungkan hidup di jalan, hal itu bukanlah sebuah pilihan, akan tetapi merupakan tuntutan.“Kalau sehari-hari ya bekerja seperti biasa saja walaupun kabut asap. Karena kalau kami (ojol) tidak bekerja, ya mau makan apa?” ujarnya kepada Kaltengpos.jawapos.com, Kamis (24/9/2026).
Menurut Fadil, kondisi cuaca yang sangat tidak sehat bukan menjadi alasan dirinya untuk berdiam diri di rumah. Pria yang sudah menggantungkan hidupnya dari ojol selama tiga tahun itu mengaku pilihan banyak orang untuk tetap berada di rumah justru memberikan keuntungan tersendiri.“Kalau kita (Gojek) itu banyak orang menggunakan jasanya untuk beli makanan. Karena banyak yang malas ke luar rumah, jadi orderan kita masuk aja terus,” jelasnya.Namun, hal itu bukan tanpa risiko. Terpapar asap setiap hari dalam waktu yang lama membuat orang seperti Fadil rentan terhadap penyakit. Ia sendiri justru sempat jatuh sakit selama sepekan. Namun, ia memutuskan tetap bekerja.“Kemarin sempat sakit seminggu. Tapi ya kerja aja,” ceritanya.Kabut asap juga menjadi kendala tersendiri. Paparan debu dari partikel hasil Karhutla membuat mata perih. Belum lagi, jarak pandang juga terbatas sehingga memerlukan kehati-hatian yang ekstra.Dalam sehari, Fadil biasanya menerima puluhan orderan. Ia biasanya mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Selama itu pula ia berada di jalan raya untuk mengantarkan makanan dan mengantarkan penumpang.
“Kalau normal bisa 30 orderan sehari. Tapi kalau kabut ini ya jadi 25 orderan lah. Kendalanya pasti asap. Mata perih, belum lagi jarak pandang terbatas,” bebernya.Ia berharap perhatian pemerintah terhadap penanganan Karhutla bisa maksimal. Pasalnya, Karhutla bukan bencana baru. Hampir setiap kali kemarau panjang, Karhutla dan kabut asap sering menghantui Kalimantan.“Harapannya pemerintah bisa maksimal lah menangani Karhutla ini. Karena orang-orang seperti kami mau gak mau keluar rumah. Kalau ada asap ini, ya kami juga terganggu kerjanya,” imbuhnya. (*) Editor : Ayu Oktaviana