Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Habitat Beruang Madu di Kotawaringin Timur Semakin Sempit, Manusia Jadi Sasaran Serangan

Agus Pramono • Jumat, 25 Juli 2025 | 13:44 WIB

Korban serangan Beruang Madu.
Korban serangan Beruang Madu.
SAMPIT – Ancaman konflik manusia dan satwa liar kembali menjadi perhatian setelah dua karyawan perusahaan sawit di Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diserang beruang madu pertengahan Juli lalu.

 

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut menjadi perhatian tentang persoalan degradasi habitat alami satwa liar di wilayah itu.

 

Peristiwa itu menjadi serangan kedua yang tercatat sejak tahun 2020 ke bawah di kawasan yang sama, yakni di sekitar perkebunan kelapa sawit.

 

Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Muriansyah, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian terisolasi.

 

"Ini adalah kejadian kedua. Serangan pertama memang sudah cukup lama, tapi sama-sama terjadi di wilayah perkebunan," ujarnya, Kamis (24/7/2025).

 

Menurutnya, akar persoalan terletak pada menyempitnya ruang hidup beruang madu akibat konversi hutan menjadi area budi daya monokultur, seperti sawit.

 

Dalam kondisi itu, hewan bernama latin Helarctos Malayanus yang notabene merupakan spesies pemakan buah, madu, dan serangga, kehilangan sumber pakan alami serta tempat berlindung.

 

“Habitat mereka sudah sangat sempit. Kalau tidak ada lagi buah, madu, atau anakan pohon yang bisa dikonsumsi, mereka terpaksa mencari makan di luar kawasan hutan, termasuk ke perkebunan,” jelasnya.

 

Muriansyah menduga, pada insiden terbaru, beruang yang menyerang sedang beristirahat di bawah semak atau tumpukan daun ketika secara tidak sengaja tertimpa alat panen egrek. Respons spontan karena kaget inilah yang memicu serangan.

 

"Beruang madu bukan predator manusia. Tapi seperti makhluk hidup lain, mereka bisa agresif bila kaget atau merasa habitatnya terganggu," katanya.

 

Ia menambahkan bahwa serangan beruang tidak terjadi karena sifat buas, melainkan akibat tekanan ekologis yang terus meningkat. Seruan pun disampaikan kepada semua pihak, khususnya perusahaan pemilik konsesi lahan dan masyarakat sekitar, agar berkomitmen menjaga keseimbangan ekologis. Jika habitat tetap lestari dan sumber pangan tersedia, satwa tidak akan keluar dari hutan dan menyerang manusia.

 

“Ini bukan soal satwanya yang berbahaya, tapi lingkungannya yang tidak lagi mendukung. Kita harus melihat akar masalahnya, bukan hanya gejalanya,” bebernya.

 

Beruang madu sendiri merupakan satwa dilindungi yang tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta masuk dalam daftar spesies rentan punah menurut IUCN. Penurunan populasinya terus berlangsung seiring masifnya perubahan fungsi kawasan hutan.

 

“Yang perlu diingat, beruang madu menyerang bukan karena naluri memburu manusia, tetapi karena merasa terdesak dan kehilangan habitat. Ini panggilan serius untuk kita semua agar lebih peduli pada konservasi,” tutupnya. (mif/ram)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#lingkungan hidup #Habitat Satwa Liar #Kotawaringin Timur (Kotim) #Ekologi Kalimantan #Konflik Manusia dan Satwa #serangan beruang madu #helarctos malayanus #perkebunan sawit #BKSDA SAMPIT #satwa dilindungi #kotawaringin timur