BAU anyir mulai dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekitar Pondok Pesantren Al Khoziny, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, setelah salah satu bangunannya tiba-tiba rubuh pada Senin (29/9/2025).
Hal ini diamini oleh Wahyono, 57 tahun. Warga Sampang, Madura itu mengakui bahwa beberapa kali mencium bau tak sedap, saat memantau proses evakuasi dan pencarian korban.
"Iya bau (anyir) kadang-kadang. Ngerasa baunya sekelebat saat angin berhembus," ujar Wahyono yang sudah sejak siang hari berada di lokasi, memantau proses evakuasi dari luar garis polisi kepada JawaPos.com, Rabu (1/10/2025).
Sementara itu, Direktur Operasi pencarian dan Pertolongan Basarnas sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Laksma TNI Yudhi Bramantyo buka suara soal bau anyir yang muncul di sekitar Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo.
"(Bau Anyir) kan karena sudah lebih dua hari alias 48 jam (sejak kejadian), tetapi tidak terlalu (bau) kok ," tutur Bramantyo kepada awak media di posko darurat pada Rabu (1/10/2025).
Tim SAR gabungan saat ini terus berpacu dengan golden time atau batas waktu kritis, yakni 72 jam.
Jika merujuk pada waktu kejadian, golden time korban yang masih terjebak di dalam reruntuhan adalah Kamis (2/10/2025) sore.
"Golden Time belum habis. Nanti kalau sudah tidak ada tanda kehidupan (termasuk bau anyir yang menyengat), nanti kita bicarakan lebih lanjut. Yang jelas setelah ini, saya beserta tim melakukan pembersihan dan cek ulang," imbuhnya.
Di sisi lain, salah seorang petugas Basarnas yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bau anyir tak begitu terasa jika dari luar bangunan, apalagi dari gerbang Pondok Pesantren Al Khoziny.
"Kalau dari gerbang ponpes, menurut saya belum begitu bau. Tetapi kalau di depan banget (bangunan yang roboh) ya lumayan, mbak. Apalagi bagi orang yang belum terbiasa (cium bau jenazah)," tukasnya. (jpg/abw)
Editor : Ayu Oktaviana