SAMPIT – Isu peredaran narkoba di kawasan eks Bioskop Golden, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali menuai sorotan tajam. Kawasan itu disebut-sebut menjadi wadah peredaran Narkoba.
Beberapa waktu lalu, Kalteng Pos pernah memantau kawasan tersebut. Saat pertama kali memasuki jalan Rahardi Usman II dengan menggunakan sepeda motor, sejumlah orang langsung menawarkan Narkoba secara terang-terangan.
“Mau kah? Ada barang ini,” ujar seorang pria sambil memperlihatkan bungkusan kecil dari dalam kotak rokok.
Tawaran itu tentu saja ditolak mentah-mentah. Tak berselang jauh dari penawaran pertama, seorang perempuan kembali mencegat.
Ia menawarkan barang yang diduga sabu kepada wartawan Kalteng Pos saat liputan. Tawaran serupa didapatkan dari beberapa orang lain di kawasan tersebut.
Terkait peredaran Narkoba di wilayah itu, anggota DPRD Kotim dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, SP Lumban Gaol, angkat bicara mengenai keresahan masyarakat yang menilai kawasan itu seolah menjadi zona bebas bagi para pengedar narkoba.
Menurut Gaol, penangkapan salah seorang pengedar sabu di kawasan tersebut baru-baru ini justru menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat. Sebab, dugaan aktivitas peredaran narkoba di wilayah itu bukan hal baru.
“Adanya dugaan komplek perumahan eks Bioskop Golden menjadi sarang peredaran narkoba membuat masyarakat penuh tanda tanya terhadap kemampuan aparat penegak hukum kita di Kotawaringin Timur,” ujarnya, Senin (3/11/2025).
Ia menilai, penindakan yang dilakukan aparat seolah terlambat dan baru bergerak setelah ada laporan dari masyarakat yang viral di pemberitaan. Padahal, informasi tentang aktivitas mencurigakan di kawasan itu sudah lama beredar.
“Baru-baru ini memang ada ditangkap satu orang di sana yang diketahui pengedar sabu, hasil laporan masyarakat seperti diberitakan. Sehingga masyarakat justru merasa bahwa tindakan aparat itu seperti pahlawan di siang bolong,” sindirnya.
Menurut Gaol, masyarakat menilai bahwa lokasi itu sudah lama menjadi titik rawan peredaran narkoba.
Karena itu, muncul dugaan dan pertanyaan publik apakah aparat benar-benar tidak mengetahui, atau justru ada pembiaran yang disengaja.
Dalam perbincangan masyarakat, lokasi itu bukan hal baru. Maka masyarakat menjadi bertanya-tanya, apakah kemampuan aparat yang kurang hebat, atau sebaliknya.
"Selama ini diketahui dan dipelihara sebagai sumber pemasukan uang bagi oknum-oknum penegak hukum,” tegasnya.
Politikus yang dikenal vokal ini menekankan agar kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi seluruh penegak hukum di Kotim.
Ia berharap aparat tidak kehilangan kepekaan terhadap tugas dan tanggung jawab moral dalam memberantas kejahatan narkotika.
“Kejadian ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua, khususnya para penegak hukum yang membidanginya. Jangan sampai rasa peka kita hilang dalam melaksanakan tugas panggilan profesi kita masing-masing,” pungkasnya. (mif)