PALANGKA RAYA – Luka akibat pembacokan yang dialami EY alias Meimei (55) mulai berangsur pulih. Namun, perjuangan perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat itu belum berakhir.
Setelah keluar dari rumah sakit, ia kini harus bertahan hidup seorang diri di warung kontrakan yang menjadi tempat tinggalnya, tanpa penghasilan dan dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih.
Korban pembacokan yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial N (33), yang disebut-sebut merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), kini kembali menempati warung sewaan di kawasan Jalan Mahir Mahar, Kota Palangka Raya. Tempat itu pula yang menjadi lokasi tinggalnya di peristiwa nahas tersebut terjadi.
"Sekarang saya sudah kembali ke tempat tinggal saya di warung. Saya tinggal sendiri. Kondisi masih belum pulih dan aktivitas juga masih sangat terbatas," ujar EY, dikutip dari Prokalteng.jawapos.com, Kamis (25/6/2026).
EY mengaku bersyukur karena saat kasus yang menimpanya menjadi perhatian publik, banyak pihak yang memberikan bantuan. Dukungan datang dari masyarakat, Dinas Sosial Kota Palangka Raya, Polsek Pahandut, hingga sejumlah instansi lainnya.
Berkat bantuan tersebut, biaya perawatan di rumah sakit yang mencapai puluhan juta rupiah dapat diselesaikan.
"Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah membantu, kepada Dinas Sosial, Polsek Pahandut dan semua pihak yang peduli. Waktu itu biaya rumah sakit yang jumlahnya puluhan juta rupiah akhirnya bisa terselesaikan karena bantuan banyak pihak," katanya.
Namun, bantuan yang sempat diterimanya kini telah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menjalani masa pemulihan.
"Uang bantuan yang dulu ada sekarang sudah habis. Dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, makan, biaya hidup dan keperluan selama berobat. Sekarang saya mulai kesulitan lagi karena pemasukan tidak ada," tuturnya.
Meski biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, EY masih harus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit. Ia harus memeriksakan kondisi kesehatannya di beberapa poli, seperti poli tulang, penyakit dalam, hingga saraf.
"Saya masih kontrol terus. Kadang dua hari sekali harus ke rumah sakit. Ada pemeriksaan tulang, penyakit dalam, dan saraf. Karena kondisi belum sembuh, dokter masih minta saya rutin berobat," ujarnya.
Menurut EY, persoalan kini bukan lagi biaya rumah sakit, melainkan ongkos transportasi menuju fasilitas kesehatan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kalau biaya rumah sakit ditanggung BPJS, saya bersyukur. Tapi untuk pergi kontrol harus naik ojek. Setiap kali berangkat pasti keluar biaya. Sementara saya tidak ada penghasilan sama sekali," katanya.
Kondisi fisiknya yang belum pulih juga membuatnya belum mampu bekerja maupun melakukan aktivitas rumah tangga secara normal.
"Saya sekarang beli makan terus karena belum bisa masak. Tangan saya belum bisa banyak bergerak. Untuk aktivitas biasa saja masih susah, apalagi kalau harus bekerja," ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, EY mengaku semakin khawatir memikirkan biaya kontrakan, tagihan listrik, serta kebutuhan hidup yang terus berjalan setiap bulan.
"Yang saya pikirkan sekarang bagaimana bayar kontrakan, bayar listrik, dan kebutuhan sehari-hari. Pengeluaran tetap jalan, tapi saya tidak bisa bekerja. Itu yang membuat saya bingung," ucapnya.
Perempuan berusia 55 tahun itu berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memberikan perhatian lanjutan hingga kondisinya benar-benar pulih.
"Saya berharap ada solusi dari kelurahan, dari Damang, atau pihak-pihak yang bisa membantu. Saya bukan minta berlebihan, tapi setidaknya ada jalan keluar sampai kondisi saya benar-benar pulih," katanya.
Selain berharap bantuan pemerintah, EY juga menilai keluarga pelaku perlu menunjukkan tanggung jawab atas dampak yang masih harus ditanggungnya hingga saat ini.
"Saya hanya ingin ada tanggung jawab. Saya ini korban, sampai sekarang masih merasakan akibatnya. Bantuan dari keluarga pelaku ada, tetapi menurut saya masih sangat kurang dibandingkan kondisi yang harus saya jalani sekarang," ujarnya.
Ia mengaku tidak memiliki keluarga yang tinggal bersamanya maupun sumber penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya hidup sendiri. Kalau tidak ada bantuan, saya tidak tahu harus bagaimana. Untuk bekerja belum mampu, sedangkan kebutuhan setiap hari tetap harus dipenuhi," tuturnya.
Diketahui, EY menjadi korban pembacokan brutal yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial N (33). Akibat kejadian tersebut, ia mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif selama sekitar 10 hari di RSUD Palangka Raya.
Meski berhasil selamat dan biaya pengobatan telah terbantu melalui BPJS Kesehatan serta dukungan berbagai pihak, perjuangan EY belum usai.
Di tengah proses pemulihan, ia kini harus menghadapi keterbatasan fisik, trauma, dan tekanan ekonomi karena belum dapat kembali bekerja sebagai tukang pijat.(*/kpg)
Editor : Agus Pramono