Rumah Kayu di Sampit Hangus Terbakar Imbas Karhutla

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:16 WIB
Satu unit rumah kayu terkapar.(Warga)
Satu unit rumah kayu terkapar.(Warga)

 

SAMPIT – Sebuah rumah kayu yang telah lama ditinggalkan pemiliknya di sekitar Perumahan Grand Pelita, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Jumat malam (21/8/2026) terbakar. Hal itu imbas dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sekitar lokasi.

Bangunan tersebut berada di Jalan Pelita Barat, Gang Swadaya, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Sebelum rumah terbakar, kawasan di sekitarnya sudah menjadi sasaran operasi pemadaman sejak siang.

Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, membenarkan adanya bangunan yang dilalap api. Menurut dia, rumah tersebut berada di kawasan Jalan Pelita Barat.

“Memang ada satu rumah yang terbakar di kawasan Jalan Pelita Barat,” katanya, Sabtu (22/8/2026).

Sementara itu, Lurah Mentawa Baru Hilir, Putri Noorgeulis Fimaulyahar, memastikan bangunan yang terbakar bukan rumah yang sedang ditempati warga. 

Hasil pengecekan dengan Ketua RT setempat menunjukkan rumah tersebut sudah lama kosong dan konstruksinya berbahan kayu.

“Kami sudah mendapatkan kepastian dari Ketua RT 74 bahwa bangunan itu sudah lama tidak dihuni dan merupakan rumah kayu,” ungkapnya.

Sebelum kobaran api mencapai bangunan, tim gabungan telah bekerja sejak sekitar pukul 14.00 WIB untuk mengatasi sedikitnya tiga titik kebakaran di kawasan Grand Pelita. Salah satu titik berada di Gang Swadaya, tidak jauh dari rumah yang kemudian terbakar.

“Sejak sekitar pukul 14.00 WIB kami sudah menangani tiga lokasi api di Grand Pelita, termasuk titik yang berada di Gang Swadaya,” katanya.

Operasi tersebut melibatkan sejumlah unsur relawan dan masyarakat. Relawan Ketapi 3, MPA Teluk Dalam, Redkar Masjid Jami Assalam, Relawan Langsat, HMM serta staf Kelurahan Mentawa Baru Hilir ikut turun ke lapangan. Dukungan pasokan air juga datang dari sejumlah organisasi perangkat daerah.

Kondisi lapangan membuat proses pemadaman tidak berjalan mudah. Kepulan asap tebal menyelimuti area kebakaran sehingga petugas harus bekerja dalam kondisi jarak pandang yang terbatas.

Setelah sekitar empat jam melakukan penanganan, tim meninggalkan lokasi. Namun, kondisi ternyata belum sepenuhnya aman.

Api kembali muncul setelah operasi dihentikan. Kobaran yang berada di sekitar bangunan kosong kemudian membesar hingga akhirnya menghanguskan rumah kayu tersebut.

Kebakaran itu membuat kawasan Grand Pelita tetap mendapat perhatian serius. Selain ancaman api yang dapat kembali muncul, lokasi karhutla yang berdekatan dengan rumah warga meningkatkan risiko apabila kobaran meluas. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
rumah kayu relawan karhutla