Guru Ngaji yang Cabuli Santri Laki-laki di Surabaya Ngaku Takut Berzina dengan Perempuan
Miftahul Ilma• Selasa, 12 Mei 2026 | 18:30 WIB
Guru ngaji buat cabul ke anak didiknya. Instagram/@luthfiedaily
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren yang menyeret seorang guru mengaji di kawasan Genteng, Surabaya, berinisial MZ (23) mengungkap fakta mengejutkan.
Dalam pemeriksaan polisi, pelaku mengaku lebih memilih sesama jenis karena takut berhubungan dengan perempuan.
“Kalau sama perempuan takutnya zina atau hamil gitu,” kata pelaku MZ saat diperiksa polisi.
Pengakuan itu mencuat setelah aparat mengungkap dugaan kekerasan seksual yang dilakukan MZ terhadap para santri dalam rentang 2025 hingga 2026.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan, pelaku menjalankan aksinya saat suasana pondok sedang sepi pada malam hari. MZ diduga masuk ke kamar para korban yang mayoritas masih berstatus santri laki-laki.
“Dia nafsu, karena guru ngaji ini hobinya menonton film biru (film porno). Korban antara 10-15 orang,” katanya, Senin (11/5/2026) kemaren.
Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku disebut memanfaatkan kedekatannya sebagai pengajar agama untuk mendekati para korban. Polisi juga menyebut aksi tersebut dilakukan berulang dalam kurun waktu cukup lama sebelum akhirnya terbongkar.
Kasus ini kembali menambah daftar dugaan kekerasan seksual di lingkungan pesantren yang belakangan ramai menjadi perhatian publik.
Sebelumnya, kasus serupa juga mencuat di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pendiri ponpes tersebut, Ashari (52), telah ditangkap polisi setelah diduga melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati.