Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Bukan Cuma Kopi atau Makanan Asam, Ini Pemicu GERD yang Sering Tak Disadari

Anisa Bahril Wahdah • Jumat, 24 Oktober 2025 | 19:00 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PERNAHKAH kamu merasakan sensasi panas di dada atau tenggorokan seperti terbakar setelah makan, meski tidak menyantap makanan pedas? Atau mendadak merasa mual dan perut kembung setelah menikmati camilan sore seperti gorengan, kopi, atau sepotong roti manis?

Banyak orang mengira gejala tersebut hanyalah tanda masuk angin atau akibat makan terlalu cepat.

Padahal, kondisi itu bisa jadi merupakan tanda-tanda Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yaitu naiknya asam lambung ke kerongkongan.

GERD termasuk salah satu gangguan pencernaan paling umum di dunia. Berdasarkan studi yang dimuat dalam Journal of Neurogastroenterology and Motility, sekitar 10–20% populasi global mengalami gejala GERD setiap minggu.

Di Indonesia, kasus GERD kian meningkat seiring perubahan pola makan modern, seperti kebiasaan makan dalam porsi besar, mengonsumsi makanan cepat saji, serta minuman tinggi kafein yang menjadi bagian dari rutinitas harian.

Menariknya, banyak penderita GERD yang sudah berusaha menghindari makanan berisiko—seperti sambal, jeruk, atau kopi namun tetap mengalami keluhan yang sama.

Hal ini karena tidak semua pemicu GERD terasa ekstrem di lidah. Beberapa justru tersembunyi dalam makanan yang terlihat aman dan biasa dikonsumsi setiap hari.

Menurut Cleveland Clinic, faktor makanan memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan tekanan di sfingter esofagus bagian bawah, yaitu katup yang memisahkan lambung dan kerongkongan.

Jika katup ini melemah atau terlalu sering terbuka, asam lambung dapat naik dan mengiritasi dinding kerongkongan.

Pola makan, jenis makanan, bahkan waktu makan, dapat menjadi salah satu pemicu untuk memperburuk kondisi ini.

Untuk itu, memahami makanan-makanan yang diam-diam bisa memicu naiknya asam lambung adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Berdasarkan hasil penelitian dan panduan dari Medical News Today, Cleveland Clinic, serta studi klinis dari PMC (PubMed Central), berikut penjelasan lebih lanjut tentang makanan pemicu GERD yang sering kali tidak disadari.

Makanan Pemicu GERD yang Sering Terabaikan

Banyak orang mengaitkan GERD dengan makanan pedas atau asam, padahal penelitian menunjukkan bahwa pemicu asam lambung tidak selalu berasal dari rasa tajam.

Dalam studi oleh Choe dkk. (2017) yang dimuat di Journal of Neurogastroenterology and Motility, makanan berlemak, digoreng, dan berbumbu pekat memiliki hubungan yang signifikan dengan munculnya gejala refluks.

Makanan berlemak seperti daging olahan, gorengan, atau saus krim dapat memperlambat proses pengosongan lambung, sehingga asam lambung bertahan lebih lama dan memberi tekanan ke arah kerongkongan.

Selain itu, makanan seperti roti putih, tepung olahan, serta makanan cepat saji juga dapat memicu refluks pada beberapa orang karena meningkatkan tekanan intra-abdomen setelah makan.

Sementara itu, minuman berkarbonasi, alkohol, dan kopi masih menjadi faktor klasik yang memperburuk gejala karena menurunkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah.

Akibatnya, katup yang seharusnya menahan isi lambung tetap tertutup menjadi lebih mudah terbuka.

Yang menarik, Medical News Today menyoroti bahwa beberapa makanan yang kerap dianggap “sehat”, seperti tomat, bawang, dan cokelat, juga bisa memperburuk gejala bagi individu tertentu terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau dalam kondisi perut kosong.

Tidak hanya apa yang dimakan, tetapi bagaimana cara makan juga berperan besar dalam munculnya gejala GERD.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa makan dalam porsi besar atau terlalu cepat dapat menyebabkan tekanan berlebih pada lambung.

Begitu pula dengan kebiasaan langsung berbaring setelah makan, yang membuat gravitasi tidak lagi membantu menjaga posisi isi lambung tetap di bawah.

Faktor gaya hidup seperti obesitas, kebiasaan merokok, dan stres kronis juga terbukti memperparah gejala GERD.

Stres dapat meningkatkan sensitivitas terhadap asam lambung, sementara kelebihan berat badan menekan perut dan mendorong isi lambung naik ke kerongkongan.

Strategi Mengelola GERD Lewat Pola Makan

Mengelola GERD bukan berarti harus menghindari semua makanan favorit, tetapi belajar mengenali batas dan respons tubuh sendiri. Berdasarkan panduan dari Medical News Today dan Cleveland Clinic, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Kombinasi pola makan seimbang, waktu makan yang tepat, serta pengelolaan stres yang baik dapat membantu menurunkan frekuensi dan keparahan gejala GERD tanpa harus bergantung terus-menerus pada obat penurun asam lambung.

Banyak orang tidak menyadari bahwa makanan yang tampak “aman” bisa menjadi pemicu tersembunyi dari keluhan asam lambung.

Bukan hanya makanan pedas atau asam, tetapi juga gorengan ringan, roti putih, makanan cepat saji, dan minuman manis bisa memperparah gejala jika dikonsumsi berlebihan atau di waktu yang tidak tepat.

Dengan memahami faktor-faktor ini, penderita GERD dapat lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola makan sehari-hari.

Pada akhirnya, menjaga lambung tetap nyaman bukan soal pantangan ketat, melainkan soal kesadaran terhadap tubuh sendiri dan kebiasaan makan yang lebih seimbang. (*)

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Anisa Bahril Wahdah
#gerd #kopi #kesehatan #edukasi #asam lambung