PALANGKA RAYA- Penyandang diabetes melitus di Kalteng pada tahun 2025 mencapai 9.168 orang, berdasarkan data Aplikasi Sehat Indonesiaku yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng.
Dari seluruh kabupaten/kota, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat angka tertinggi, yakni 3.502 penderita.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menjelaskan bahwa tingginya jumlah kasus di Kotim sejalan dengan besarnya jumlah penduduk di wilayah tersebut. Semakin besar populasi, semakin besar pula potensi munculnya kasus diabetes.
“Kotim itu memang penduduknya paling besar di Kalteng. Jadi wajar kalau jumlah penderita diabetesnya juga paling banyak,” ujar Suyuti, Minggu (23/11/2025).
Menurut Suyuti, sebagian besar penderita berada pada kelompok usia di atas 45 tahun. Ia menegaskan bahwa meski faktor keturunan berperan, pemicu yang paling dominan tetaplah gaya hidup masyarakat yang kurang sehat.
“Yang banyak kita temukan juga diabetes, terutama untuk pralansia ke atas. Penyebabnya pola makan terlalu manis, jarang olahraga, dan kurang istirahat,” ucapnya.
Ia memaparkan bahwa konsumsi gula berlebih membuat insulin bekerja terus-menerus hingga kehilangan sensitivitas.
Ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan kadar gula darah, diabetes pun muncul dan dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti gangguan ginjal, jantung, hingga masalah saraf.
Walaupun faktor genetik turut menjadi bagian dari risiko, Suyuti menegaskan bahwa risiko tersebut sebenarnya dapat diminimalkan melalui perubahan gaya hidup.
“Faktor genetik ini sebetulnya bisa dikendalikan kalau kita rajin olahraga, istirahat cukup, dan menghindari makanan manis,” jelasnya.
Tanggapan Dinkes Kotim
Terkait kondisi itu, Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, menegaskan bahwa angka tersebut masih berada dalam proyeksi Kementerian Kesehatan.
Ia menjelaskan, menurut estimasi nasional, pada tahun 2025 jumlah penderita DM di Kotim diperkirakan mencapai 4.724 orang. “Berdasarkan pencatatan di Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) per hari ini, ada 3.504 orang penderita DM,” ujarnya saat dikonfirmasi Kalteng Pos.
Nugroho menyebut, tingginya jumlah tersebut berkat upaya Puskesmas yang secara aktif melakukan pemeriksaan langsung ke masyarakat dan pencatatan di ASIK.
“Kawan-kawan Puskesmas sudah berupaya seoptimal mungkin agar data di ASIK menggambarkan kondisi sesungguhnya,” katanya.
Ia menjelaskan, tingginya temuan kasus tidak hanya disebabkan oleh peningkatan kejadian DM, tetapi juga karena masifnya program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai komunitas.
Program ini membuat masyarakat lebih mudah terdeteksi dan terdata.
“Tingginya angka deteksi juga bisa disebabkan oleh optimalisasi program CKG, terutama yang dilakukan di komunitas dan kelompok masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, Nugroho mengungkapkan sejumlah faktor yang memicu meningkatnya kasus diabetes di Kotim. Selain faktor keturunan, gaya hidup masyarakat menjadi penyebab dominan.(ovi/mif/ala)