KALTENG POS - Belakangan ini, istilah "Super Flu" tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Munculnya varian baru ini memicu kekhawatiran karena disebut-sebut memiliki daya tular yang lebih agresif dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Per awal Januari 2026, pemerintah telah mengonfirmasi temuan puluhan kasus yang tersebar di beberapa provinsi. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Super Flu, dan apa perbedaannya dengan Flu biasa?
Apa Itu Super Flu?
Istilah "Super Flu" merujuk pada varian Influenza A (H3N2) subclade K. Meskipun secara medis ini merupakan bagian dari virus influenza yang sudah ada, penambahan kata "super" muncul karena karakteristik penularannya yang sangat cepat dan intensitas gejalanya yang seringkali dirasakan lebih berat oleh pasien.
Perbedaan Super Flu dan Flu Biasa
Walaupun keduanya disebabkan oleh virus influenza, terdapat beberapa perbedaan signifikan yang perlu Anda waspadai diantaranya :
1. Kecepatan Penularan
Flu Biasa (Musiman) tingkat kecepatan penularannya "sedang". Sedangka Super Flu (H3N2 Subclade K) menyebarnya "Sangat Cepat". Satu orang bisa menulari 2-3 orang lainnya.
2. Intensitas Gejala
Flu Biasa gejalanya mulai dari tingkat ringan hingga sedang, biasanya membaik dalam 3-5 hari. Sedangkan Super Flu tingkat berat dan mendadak.
3. Frekuensi Demam
Flu Biasa dengan frekuensi demam ringan kurang dari 38 derajat celcius. Super Flu mengalami demam tinggi dengan suhu bisa mencapai 39 - 40 Derajat Celcius dan berkepanjangan.
4. Tingkat Kelelahan
Pada Flu Biasa hanya merasa lemas biasa, namun pada Super Flu mengalami Extreme Fatigue atau Kelelahan hebat hingga sulit beraktivitas total.
5. Risiko Komplikasi
Flu Biasa tingkatan sebarannya rendah bagi orang sehat. Sementara Super Flu lebih tinggi, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita komorbid.
Sebaran Kasus Super Flu di Indonesia: Di Mana yang Tertinggi?
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus Super Flu yang telah terdeteksi melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit dengan Skrining Kesehatan Gratis di Aplikasi Mobile JKN
Kasus ini tersebar di 8 provinsi, dengan rincian wilayah tertinggi diantaranya Jawa Timur (23 kasus/Tertinggi di Indonesia), Kalimantan Selatan 18 kasus, jawa Barat 10 kasus, Sumatera Selatan 5 kasus, Sumatera Utara 3 kasus, dan sisanya tersebar di Jawa Tengah, Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta.
Data menunjukkan bahwa mayoritas penderita adalah kelompok usia anak-anak dan perempuan, yang memang cenderung lebih rentan terhadap serangan virus pernapasan. (*)
Editor : Ayu Oktaviana