Bipolar, Perubahan Emosi Ekstrem yang Perlu Diwaspadai, RSUD dr Doris Sylvanus Beri Penyuluhan Dengan Warga

Kamila • Dipublikasikan Jumat, 3 April 2026 | 12:00 WIB

Dr. Hotma Marintan, Sp, KJ bersama tenaga medis poli jiwa foto bersama masyarakat usai memberikan penyuluhan tentang gangguan mental bipolar.KAMILA/KALTENG POS.
Dr. Hotma Marintan, Sp, KJ bersama tenaga medis poli jiwa foto bersama masyarakat usai memberikan penyuluhan tentang gangguan mental bipolar.KAMILA/KALTENG POS.

 

PALANGKA RAYA – RSUD dr Doris Sylvanus memberikan edukasi bahaya bipolar kepada masyarakat, Selasa (31/3/2026). Edukasi dilakukan dalam rangka peringatan Hari Bipolar Sedunia yang diperingati setiap 30 Maret.

Edukasi yang dilaksanakan di ruang tunggu Poli Jiwa RSUD dr Doris Sylvanus diisi dengan penyuluhan dan tanya jawab. Peserta yang aktif bertanya mendapatkan souvenir.

Baca Juga: Pemerintah Fokus Mencegah Penyakit Jantung, Stroke, dan Gagal Ginjal

Dokter Spesialis Jiwa, dr. Hotma Marintan, Sp.KJ, menyampaikan bahwa bipolar merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan perubahan emosi yang ekstrem dan perlu penanganan medis oleh tenaga profesional seperti psikiater maupun psikolog.

“Emosi pada orang dengan bipolar cenderung berlebihan. Saat mereka mengalami perasaan seperti sedih, menangis, atau bahkan bahagia, intensitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan orang pada umumnya. Jika keluarga atau lingkungan mulai melihat kondisi tersebut, sebaiknya segera dirujuk untuk dilakukan skrining,” ungkapnya.

Berdasarkan data epidemiologi, prevalensi seumur hidup gangguan bipolar tipe I berkisar 0–1 persen, sementara bipolar tipe II berkisar 0–1,1 persen. Meski demikian, bipolar merupakan gangguan kejiwaan kronis yang memerlukan pemantauan berkelanjutan melalui psikoterapi maupun pengobatan guna menjaga kestabilan suasana hati pasien.

Baca Juga: Pemerintah Fokus Mencegah Penyakit Jantung, Stroke, dan Gagal Ginjal

dr. Hotma Marintan menjelaskan bahwa penderita bipolar tidak dapat sepenuhnya lepas dari pengobatan. Penghentian terapi tanpa pengawasan dapat memperparah kondisi pasien, ditandai dengan kembalinya emosi yang tidak stabil.

Dalam kegiatan tersebut, pasien yang berada di ruang tunggu poli jiwa tampak antusias mengikuti penyuluhan. Mereka aktif mengajukan pertanyaan kepada dokter dalam sesi diskusi. Setiap penanya juga mendapatkan suvenir berupa hasil karya dari komunitas penyintas bipolar.

Baca Juga: Mengenal dr. Dwita Rian Desandri: Pakar Jantung yang Viral Usai Edukasi Perbedaan GERD dan Serangan Jantung

Lebih lanjut, dr. Hotma menegaskan bahwa penderita bipolar membutuhkan ruang untuk dipahami, dimengerti, tidak dihakimi, serta mendapat dukungan. Peran keluarga dan lingkungan sekitar menjadi kunci dalam membantu proses pemulihan.

“Saat ini pemerintah telah memberikan dukungan melalui layanan kesehatan mental yang ditanggung BPJS, mulai dari pemeriksaan hingga terapi. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak ragu untuk memeriksakan diri dan lebih peduli terhadap kesehatan mental,” pungkasnya.(afa)

Editor : Ayu Oktaviana
bipolar hari bipolar sedunia kesehatan jiwa kesehatan mental RSUD dr Doris Sylvanus