KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Di tengah kesibukan dan tekanan pekerjaan, banyak orang dewasa merasa baik-baik saja dengan kondisi giginya selama belum terasa sakit.
Namun, siapa sangka, di balik rasa “aman” itu bisa tersembunyi ancaman serius yang perlahan berkembang tanpa disadari.
Pemeriksaan gigi rutin masih belum menjadi kebiasaan. Akibatnya, sebagian besar pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah parah.
Baca Juga: Pemerintah Fokus Mencegah Penyakit Jantung, Stroke, dan Gagal Ginjal
Padahal, kerusakan gigi yang dibiarkan bukan hanya soal lubang kecil, tetapi bisa berkembang menjadi infeksi serius yang berdampak pada kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Dokter gigi Puskesmas Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, drg Fitria Ramadhani Nashir mengungkapkan, persoalan kesehatan gigi pada usia dewasa masih tergolong tinggi.
Kasus yang paling sering ditemui meliputi gigi berlubang, radang gusi dan jaringan penyangga gigi (periodontal), gigi goyang hingga kehilangan gigi permanen.
“Masalah gigi pada usia dewasa sangat beragam, mulai dari gigi berlubang hingga kehilangan gigi,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Menariknya, pasien yang rutin memeriksakan gigi justru didominasi anak-anak dan remaja. Sementara itu, pasien dewasa umumnya datang saat keluhan sudah tak tertahankan terutama nyeri hebat akibat gigi berlubang yang telah mencapai tahap lanjut.
Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran pemeriksaan gigi setiap enam bulan sekali pada usia produktif.
Sejumlah kebiasaan menjadi pemicu utama kerusakan gigi. Mulai dari menunda perawatan, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta asam, hingga kebiasaan merokok. Gaya hidup modern seperti konsumsi kopi manis berlebihan dan kurang minum air putih juga memperparah kondisi rongga mulut.
Padahal, air liur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan bakteri dan melindungi gigi dari paparan asam. Ketika asupan cairan kurang, produksi air liur menurun dan risiko kerusakan gigi pun meningkat.
Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan gigi sering kali tidak langsung menimbulkan rasa sakit. Nyeri biasanya baru muncul ketika lubang telah mencapai saraf gigi. Pada tahap ini, kondisi sudah cukup parah dan memerlukan penanganan lebih kompleks.
Baca Juga: Waspada! Dinar Candy Ingatkan Bahaya 'Podgeter' yang Viral di Kelab Malam, Ternyata Bukan Vape Biasa
Tak hanya berdampak pada rongga mulut, infeksi gigi juga bisa memicu masalah kesehatan lain. Bakteri dari gigi berlubang berpotensi masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ tubuh.
“Infeksi gigi dapat berdampak terhadap penyakit lain seperti gangguan jantung dan diabetes,” jelas drg Fitria.
Penanganan gigi berlubang bergantung pada tingkat keparahan. Pada tahap awal, gigi masih bisa diselamatkan melalui penambalan. Namun jika sudah mencapai saraf atau terjadi infeksi, diperlukan perawatan saluran akar.
Pencabutan menjadi langkah terakhir bila kondisi gigi tidak dapat dipertahankan.
Lebih dari sekadar kesehatan, kondisi gigi juga berpengaruh pada kepercayaan diri. Gigi yang bersih dan rapi mendukung penampilan serta interaksi sosial. Sebaliknya, gigi bermasalah kerap membuat seseorang enggan tersenyum atau berbicara.
Untuk mencegah kondisi yang lebih serius, drg. Fitria mengingatkan pentingnya kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Sikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi berfl uoride, batasi makanan dan minuman manis serta asam, perbanyak minum air putih, dan lakukan pemeriksaan gigi setiap enam bulan sekali,” pesannya.
Kesadaran menjaga kesehatan gigi sebaiknya dimulai sebelum rasa sakit muncul. Sebab, ketika gigi sudah terasa nyeri, bisa jadi kerusakan telah mencapai tahap yang lebih serius. Jangan tunggu sakit karena bisa jadi, “bom waktu” itu sudah lama ada di rongga mulut Anda.(*)
Editor : Ayu Oktaviana