Kalteng Optimistis Bisa Menembus Target 18,8 Persen untuk Penurunan Stunting
Novia• Kamis, 30 April 2026 | 14:30 WIB
Pemprov Kalteng dalam upaya penurunan stunting. Dok Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com
PALANGKA RAYA-Pemprov Kalteng menegaskan komitmennya mempercepat penurunan stunting hingga mencapai target 18,8 persen pada 2026.
Penegasan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta Percepatan Penurunan Stunting dan Penilaian Kinerja Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2026 di Aula Jayang Tingang Lantai II, Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (29/4/2026).
Rakorda tersebut menjadi momentum strategis konsolidasi lintas sektor sekaligus forum evaluasi berbasis data terhadap kinerja 2025 dan perumusan langkah konkret 2026–2027.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, Linae Victoria Aden, dalam laporannya menyampaikan bahwa prevalensi stunting Kalteng pada 2023 tercatat sebesar 23,5 persen dan turun menjadi 22,1 persen pada 2024.
“Penurunan 1,4 persen ini patut kita syukuri. Namun dengan target 2026 sebesar 18,8 persen, kita tidak boleh berpuas diri,” ujarnya.
Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penguatan monitoring dan evaluasi terhadap 31 indikator layanan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS), evaluasi realisasi anggaran stunting semester I dan II tahun 2025, serta identifikasi kendala sebagai dasar penyusunan kebijakan perbaikan 2026 dan perencanaan prioritas 2027.
Linae juga melaporkan bahwa sebagian besar Indikator Kinerja Utama (IKU) Program Bangga Kencana tahun 2025 telah mencapai kategori minimal “baik”.
Indikator tersebut meliputi Angka Kelahiran Total (TFR), Angka Kelahiran Remaja (ASFR 15–19 tahun), Indeks Pembangunan Keluarga (Ibangga), Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK), Indeks Kepedulian terhadap Isu Kependudukan (IKIK), proporsi kebutuhan KB terpenuhi (demand satisfied), hingga indeks partisipasi masyarakat.
Namun, satu indikator yang masih menjadi perhatian adalah persentase kehamilan tidak diinginkan (unwanted pregnancy).
“Penurunan kehamilan tidak diinginkan sangat berkaitan dengan upaya pencegahan stunting. Ini perlu perhatian serius seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.
Berdasarkan verifikasi keluarga risiko stunting (KRS) 2025, di Kalteng tercatat 19.955 baduta dan 62.005 balita dalam kelompok sasaran, dengan total pasangan usia subur (PUS) mencapai 467.641. Masih terdapat 44.927 keluarga dengan akses sumber air tidak layak dan 54.067 keluarga dengan jamban tidak layak.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga faktor sanitasi, akses air bersih, pola asuh, serta kemiskinan.
Dalam implementasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) 2025, capaian bantuan di Kalteng melampaui target 7.005 sasaran, dengan realisasi 8.049 sasaran atau 114,9 persen. Total nominal bantuan tercatat sebesar Rp7,63 miliar dari 342 mitra.
Sementara progres implementasi GENTING 2026 hingga awal tahun masih 26 persen dari target 6.880 keluarga risiko stunting, sehingga memerlukan percepatan lintas sektor.
Untuk Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (MBG 3B), berdasarkan verifikasi lapangan per 20 April 2026, sebanyak 11.142 penerima telah terlayani dari total sasaran 60.118 orang di seluruh kabupaten/kota.(*)