Tidak hanya warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pasien juga datang dari daerah sekitar seperti Seruyan hingga wilayah Pagatan.
Untuk mengimbangi tingginya kebutuhan layanan tersebut, pihak rumah sakit terus memperkuat tenaga medis dan kapasitas pelayanan hemodialisa (HD).
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani, dr Candra E, mengungkapkan saat ini unit HD rumah sakit telah didukung 13 tenaga perawat yang memiliki sertifikasi khusus penanganan hemodialisa.
“Seluruh perawat yang bertugas di pelayanan HD sudah memiliki sertifikasi, jumlahnya sekarang ada 13 orang,” katanya, beberapa waktu lalu.
Menurut dr Candra, pelayanan cuci darah dilakukan dalam dua gelombang setiap hari. Pada sesi pertama yang dimulai pagi hari, jumlah pasien rutin bisa mencapai sekitar 16 orang. Sementara sesi berikutnya pada siang hari melayani sekitar 10 hingga 11 pasien.
“Pasien yang menjalani HD di sini bukan hanya dari Kotim. Ada juga yang datang dari Seruyan sampai Pagatan. Untuk jadwal pagi biasanya sekitar 16 pasien, sedangkan siang berkisar 10 sampai 11 pasien,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam satu waktu seorang perawat umumnya menangani tiga pasien sekaligus. Meski demikian, untuk kondisi tertentu seperti penggunaan alat baru maupun pasien dengan pengawasan khusus, rumah sakit menempatkan tenaga perawat tambahan agar pemantauan lebih maksimal.
“Rata-rata satu perawat menangani tiga pasien. Tetapi kalau ada kondisi khusus atau penggunaan alat tertentu, biasanya ada petugas yang fokus melakukan pemantauan,” jelasnya.
Peningkatan fasilitas dan penambahan layanan disebut membawa dampak besar terhadap kapasitas pelayanan rumah sakit. Jika sebelumnya unit hemodialisa hanya mampu menangani sekitar 15 pasien per hari, kini jumlah pelayanan hampir dua kali lipat.
“Sekarang kapasitas pelayanan sudah meningkat. Dalam sehari bisa mencapai sekitar 28 sampai 30 pasien,” tuturnya.
Selain pasien gagal ginjal kronis yang rutin menjalani cuci darah, RSUD dr Murjani juga kerap menerima pasien dengan gangguan ginjal akut dari ruang perawatan maupun instalasi gawat darurat (IGD).
Pasien dengan kondisi tersebut biasanya harus segera menjalani tindakan HD tanpa menunggu jadwal rutin karena kondisi medis yang mendesak.
“Cukup sering ada pasien dari ruang rawat yang setelah diperiksa ternyata mengalami gangguan ginjal akut dan perlu segera dilakukan hemodialisa,” pungkasnya.
Hemodialisa melansir dari https://poltekkestenggarong.org adalah prosedur pencucian darah di luar tubuh menggunakan mesin, untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak bekerja dengan baik.
Biasanya dilakukan pada pasien gagal ginjal kronis stadium akhir, saat ginjal hanya berfungsi <15% dan nggak bisa lagi menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah.(*)
Editor : Ayu Oktaviana