Oleh: Dr.Marselinus Heriteluna, S.Kp, MA*)
Ada sebuah ironi yang sedang tumbuh diam-diam di tengah generasi muda Indonesia. Di saat teknologi kesehatan berkembang pesat, pusat kebugaran semakin menjamur, aplikasi penghitung kalori tersedia di genggaman, dan gaya hidup sehat menjadi konten yang viral di media sosial, justru penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat pada kelompok usia produktif.
Dulu, diabetes melitus, hipertensi, stroke, atau penyakit jantung identik dengan mereka yang telah memasuki usia lanjut. Kini, ruang praktik dokter semakin sering menerima pasien berusia 25 hingga 40 tahun dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang melonjak, kolesterol yang tidak terkendali, bahkan serangan jantung pertama.
Fenomena ini bukan sekadar anekdot klinis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa penyakit tidak menular kini menyebabkan sekitar tiga perempat kematian global setiap tahunnya. Penyakit kardiovaskular tetap menjadi penyebab kematian terbesar, disusul kanker, penyakit paru kronik, dan diabetes.
Indonesia menghadapi kecenderungan yang sama. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk dewasa terus meningkat dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, hipertensi, diabetes melitus, serta kelebihan berat badan semakin banyak ditemukan pada usia produktif.
Kementerian Kesehatan RI bahkan menempatkan pengendalian penyakit tidak menular sebagai salah satu prioritas utama transformasi sistem kesehatan nasional.
Di balik berbagai diagnosis tersebut, terdapat satu kondisi yang sering luput dari perhatian masyarakat, yakni sindrom metabolik.
Sindrom metabolik bukanlah satu penyakit, melainkan sekumpulan gangguan metabolisme yang terjadi secara bersamaan: obesitas sentral, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, trigliserida tinggi, dan rendahnya kolesterol HDL.
Kombinasi minimal tiga dari faktor tersebut sudah cukup untuk meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner, stroke, hingga gagal ginjal di kemudian hari.
Yang mengkhawatirkan, kondisi ini hampir selalu berkembang tanpa gejala yang berarti. Seseorang dapat terlihat sehat, aktif bekerja, rajin menghadiri berbagai kegiatan sosial, bahkan rutin berolahraga sesekali, tetapi sebenarnya sedang membawa "bom waktu" metabolik di dalam tubuhnya. Ironisnya lagi, gaya hidup modern justru menyediakan hampir semua faktor risiko yang dibutuhkan untuk membentuk sindrom metabolik.
Budaya bekerja berjam-jam di depan komputer membuat aktivitas fisik menurun drastis. Mobilitas semakin bergantung pada kendaraan bermotor. Makanan cepat saji dapat dipesan hanya melalui beberapa sentuhan layar. Minuman tinggi gula menjadi bagian dari gaya hidup, bukan lagi sekadar konsumsi sesekali. Sementara itu, waktu tidur semakin tergerus oleh tuntutan pekerjaan, hiburan digital, dan kebiasaan doom scrolling hingga larut malam.
Banyak anak muda menganggap dirinya aktif karena jadwalnya padat. Padahal, sibuk tidak selalu berarti sehat.
Tubuh manusia tetap membutuhkan aktivitas fisik yang konsisten. Duduk selama delapan hingga sepuluh jam setiap hari terbukti berhubungan dengan meningkatnya risiko resistensi insulin, obesitas sentral, serta gangguan metabolisme, meskipun seseorang masih sempat berolahraga satu atau dua kali dalam seminggu.
Masalah lain yang sering diabaikan adalah stres kronis. Tekanan pekerjaan, persaingan karier, kecemasan finansial, hingga paparan media sosial yang tidak pernah berhenti membuat kadar hormon kortisol tetap tinggi dalam waktu lama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kortisol kronis berhubungan dengan penumpukan lemak viseral, peningkatan gula darah, gangguan kualitas tidur, serta meningkatnya risiko penyakit kardiometabolik.
Di sinilah menariknya fenomena yang mulai berkembang di kalangan generasi muda, yaitu tren mind-body wellness.
Jika beberapa tahun lalu indikator hidup sehat identik dengan tubuh atletis atau angka timbangan yang ideal, kini mulai muncul kesadaran bahwa kesehatan juga ditentukan oleh kualitas tidur, kemampuan mengelola stres, kesehatan mental, hubungan sosial yang baik, hingga kemampuan menikmati waktu tanpa gawai.
Meditasi, yoga, mindfulness, journaling, digital detox, forest bathing, hingga sekadar berjalan santai di ruang terbuka hijau bukan lagi sekadar tren media sosial. Berbagai kajian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik-praktik tersebut mampu menurunkan respons stres, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi inflamasi kronis tingkat rendah, sekaligus memperbaiki fungsi metabolisme tubuh.
Artinya, kesehatan metabolik tidak hanya dibangun di meja makan atau pusat kebugaran, tetapi juga di dalam pikiran.
Namun, pendekatan holistik tentu tidak berarti mengabaikan prinsip-prinsip dasar hidup sehat.
Aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama. WHO merekomendasikan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu bagi orang dewasa. Pola makan kaya sayur, buah, protein berkualitas, dan biji-bijian utuh terbukti memberikan perlindungan terhadap penyakit metabolik. Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses, minuman berpemanis, serta gula tambahan yang berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya risiko obesitas dan diabetes.
Hal yang juga sering diremehkan adalah tidur. Kurang tidur bukan hanya membuat seseorang mudah mengantuk keesokan harinya, tetapi juga memengaruhi hormon pengatur rasa lapar, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori, serta memperburuk sensitivitas insulin. Tidak mengherankan apabila begadang yang menjadi "gaya hidup" banyak pekerja muda justru berkontribusi terhadap meningkatnya sindrom metabolik.
Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih menganggap pemeriksaan kesehatan sebagai sesuatu yang perlu dilakukan hanya ketika sakit. Padahal, medical check-up sederhana berupa pemeriksaan tekanan darah, gula darah, profil lipid, indeks massa tubuh, dan lingkar perut mampu mendeteksi risiko metabolik jauh sebelum muncul komplikasi. Pendekatan preventif seperti inilah yang kini menjadi arah kebijakan kesehatan di banyak negara, termasuk Indonesia.
Data terbaru dari Federasi Diabetes Internasional (IDF) juga memperkirakan jumlah penyandang diabetes di kawasan Asia Tenggara akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang apabila faktor-faktor risiko gaya hidup tidak segera dikendalikan. Indonesia sendiri tetap berada di antara negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar di dunia, sebuah fakta yang seharusnya menjadi alarm bagi seluruh generasi produktif.
Pada akhirnya, tantangan kesehatan abad ke-21 bukan lagi semata-mata melawan penyakit infeksi, melainkan mengendalikan konsekuensi dari gaya hidup modern yang serba cepat, serba instan, tetapi minim keseimbangan. Generasi muda tidak membutuhkan obsesi untuk hidup sempurna.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi membuat keputusan-keputusan kecil yang lebih sehat setiap hari: berjalan lebih banyak, mengurangi minuman berpemanis, tidur lebih cukup, mengelola stres dengan lebih baik, dan berani melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum tubuh memberi sinyal bahaya.
Sebab, investasi terbaik pada usia muda bukan hanya pendidikan, karier, atau aset finansial. Investasi terbesar adalah metabolisme tubuh yang tetap sehat ketika memasuki usia paruh baya. Di tengah derasnya arus modernisasi, kemampuan menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan agar bonus demografi Indonesia benar-benar menjadi bonus kesehatan, bukan justru beban penyakit degeneratif di masa depan.
*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Palangkaraya
Editor : Ayu Oktaviana