PALANGKA RAYA – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 yang mulai terjadi akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, dr. Mikko Uriamapas mengatakan, peningkatan kadar PM2.5 harus disikapi secara serius karena dampaknya tidak hanya memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga dapat memperberat kondisi masyarakat yang telah memiliki penyakit kronis.
“Peningkatan konsentrasi PM2.5 ini perlu kita sikapi serius karena partikel halus tersebut dapat masuk jauh ke saluran napas dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita ISPA,” ujarnya, Minggu (27/7/2026).
Baca Juga: Ratusan Hektare Lahan di Kalteng Terdampak Karhutla, Bencana Kabut Asap di Depan Mata
Ia menjelaskan, kelompok rentan merupakan pihak yang paling berisiko terdampak apabila kualitas udara terus menurun. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok tersebut harus menjadi prioritas selama musim kemarau dan potensi kabut asap masih berlangsung.
Menurut Mikko, Dinas Kesehatan akan memperkuat langkah promotif, preventif, serta kewaspadaan dini untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat paparan asap.
Langkah tersebut dilakukan melalui penyampaian edukasi kepada masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, menggunakan masker pelindung yang memadai seperti masker N95 apabila harus beraktivitas di luar rumah, menjaga kualitas udara di dalam rumah, serta memperbanyak aktivitas di dalam ruangan.
“Untuk kelompok rentan, kami mendorong pembatasan paparan lebih ketat, pemantauan gejala sejak dini, serta segera memeriksakan diri bila muncul batuk, sesak, atau keluhan ISPA,” katanya.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Kabut Asap, Dinkes Kotim Bagikan 15 Ribu Masker
Selain mengedukasi masyarakat, Dinas Kesehatan juga memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Penguatan dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit melalui penyediaan obat-obatan, oksigen, edukasi kesehatan, hingga mekanisme rujukan bagi pasien yang kondisinya memburuk.
“Langkah ini penting karena paparan PM2.5 berkaitan dengan peningkatan infeksi saluran napas dan dapat memperberat kondisi masyarakat yang sudah memiliki penyakit paru maupun penyakit kronis,” jelasnya.
Mikko juga memberikan imbauan khusus kepada kelompok rentan. Orang tua diminta menghindarkan balita dari paparan asap secara langsung, memastikan kebutuhan gizi dan cairan terpenuhi, serta memantau pola pernapasan anak.
Bagi lansia serta penderita ISPA maupun asma, ia mengingatkan agar tetap mematuhi jadwal konsumsi obat atau penggunaan inhaler, menghindari aktivitas berat, dan segera memeriksakan diri apabila batuk maupun sesak napas semakin berat.
Sementara itu, anak-anak dan ibu hamil diimbau membatasi aktivitas maupun olahraga di luar ruangan, menggunakan masker secara disiplin ketika berada di ruang terbuka, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami pusing atau gangguan pernapasan.
Mikko menegaskan, perlindungan masyarakat harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi melalui pemantauan kualitas udara setiap hari, komunikasi risiko yang jelas kepada masyarakat, serta kesiapsiagaan pelayanan kesehatan di lapangan.(*)
“Yang sangat penting adalah perlindungan masyarakat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, sehingga dampak kabut asap terhadap kesehatan dapat ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya.
Editor : Agus Pramono