Kenali Gejalanya Agar Tak Sampai Gagal Ginjal dan Cuci Darah

Ismail • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:45 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH. FINASIM (kiri) dalam acara Launching Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, Rabu (29/7/2026). FOTO ANTARA/Vina Ashari
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH. FINASIM (kiri) dalam acara Launching Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, Rabu (29/7/2026). FOTO ANTARA/Vina Ashari

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM –  Mengenali gejala awal penyakit ginjal, menjadi hal penting, agar tidak terjadi komplikasi yang menyebabkan gagal ginjal dan cuci darah.

Peringatan ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH., FINASIM.

Menurutnya, keterlambatan penanganan gejala awal penyakit ginjal dapat memicu komplikasi serius hingga gagal ginjal yang memerlukan terapi cuci darah.

"Kalau batunya kita diamkan, bisa menyebabkan infeksi, aliran urine menjadi tersumbat sehingga terjadi hidronefrosis atau pembengkakan ginjal. Kalau terlambat ditangani, akhirnya bisa menjadi gagal ginjal," kata Mutalib dalam peluncuran Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, Rabu (29/7/2027) mengutif ANTARA.

Baca Juga: Kenali Gagal Ginjal Akut dan Gagal Ginjal Kronis

Ia mengatakan batu ginjal masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai pada layanan urologi di Indonesia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran kemih berulang, penyumbatan aliran urine, penurunan fungsi ginjal, hingga gagal ginjal terminal apabila tidak segera ditangani.

Gejala Awal Penyakit Ginjal :

·     Nyeri pada pinggang

·     Nyeri punggung bagian bawah

·     Nyeri saat buang air kecil

·     Urine bercampur darah

·     Gangguan berkemih

“Pemeriksaan medis sejak munculnya keluhan dinilai penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang bersifat permanen,” ujar Mutalib.

Ia menjelaskan kurangnya asupan cairan menjadi salah satu faktor risiko utama pembentukan batu ginjal, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

"Kalau kurang minum, tubuh cenderung mengalami dehidrasi. Kristal hasil metabolisme makanan akan berkumpul di ginjal dan lama-kelamaan membentuk batu," ujarnya.

Baca Juga: Dokter Spesialis Sebut Delapan Gejala Gangguan Ginjal pada Anak yang Perlu Dikenali

Selain dehidrasi, konsumsi makanan, minuman, obat-obatan maupun jamu yang berpotensi merusak ginjal jika dikonsumsi berlebihan juga perlu diwaspadai. 

“Karena itu, edukasi mengenai pola hidup sehat dan penggunaan obat secara bijak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit ginjal,” kata Mutalib.

Mutalib mengatakan penyakit ginjal tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Kelompok usia produktif juga memiliki risiko cukup tinggi akibat kebiasaan kurang minum dan jarang menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.

Ia menyebutkan kasus batu ginjal banyak ditemukan pada kelompok usia 25 hingga 35 tahun. Pemeriksaan kesehatan, termasuk urinalisis, disarankan mulai dilakukan sejak usia muda, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.

Selain itu, anak-anak juga perlu mendapat perhatian karena konsumsi minuman tinggi gula dan pewarna secara berlebihan berpotensi meningkatkan risiko gangguan ginjal. Orang tua diimbau mengawasi pola makan dan minum anak sejak dini.

Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, Mutalib menyarankan masyarakat membiasakan minum air putih sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari, rutin berolahraga, serta menerapkan pola makan seimbang guna menjaga kesehatan ginjal dan metabolisme tubuh. (*)

 

Editor : Agus Pramono
cuci darah kesehatan penyakit ginjal gagal ginjal