1.782 Kasus Karhutla, 70.470 Warga Kalteng Kena ISPA

rifqi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Kabut asap di Palangka Raya memaksa pengguna jalan mengenakan masker.(Agus Pramono/Kaltengpos.jawapos.com)
Kabut asap di Palangka Raya memaksa pengguna jalan mengenakan masker.(Agus Pramono/Kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA–Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai mendapat perhatian serius dari sisi kesehatan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng mencatat 70.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang 1 Januari hingga 24 Agustus 2026.

Baca Juga: Kabut Asap Kalimantan Sampai Ke Negara Tetangga, Malaysia dan Brunei Mengadu ASEAN

Kepala Pelaksana BPBD Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan angka tersebut masuk dalam data dampak karhutla yang dihimpun BPBD. Sementara itu, tidak terdapat kasus diare yang tercatat dalam data penanganan dampak karhutla.

“Data BPBD Kalteng juga mencatat 70.470 kasus ISPA. Sementara kasus diare tercatat 0 kasus dalam data penanganan dampak karhutla,” ujar Ahmad dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Selain dampak kesehatan, BPBD Kalteng mencatat sebanyak 1.782 kejadian karhutla hingga periode tersebut. Berdasarkan laporan lapangan dari pemerintah kabupaten/kota, luas area yang terbakar mencapai 5.065,28 hektare.

Sementara berdasarkan pemantauan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, luas area terbakar di Kalteng tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 7.634,46 hektare.

Kondisi kemarau dan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalteng turut meningkatkan kewaspadaan pemerintah terhadap dampak karhutla, terutama terhadap kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Mengkhawatirkan! Kasus ISPA Dampak Karhutla di Kota Palangka Raya Tembus 12 Ribu 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng pun menggencarkan edukasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.

Plt Kepala Dinkes Kalteng, dr. Mikko Uriamapas Ludjen, meminta masyarakat memberikan perhatian lebih kepada kelompok yang rentan terdampak paparan udara buruk, terutama ibu hamil, balita dan lanjut usia.

“Khususnya ibu-ibu hamil, anak-anak balita, dan para lansia. Itu semua harus lebih berhati-hati,” ujar Mikko.

Menurutnya, kelompok tersebut memiliki daya tahan tubuh yang relatif lebih rendah sehingga perlu mendapat perlindungan lebih selama kondisi udara terdampak asap karhutla.

Mikko juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek maupun sesak napas. Pemeriksaan sejak dini dinilai penting agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih berat.

Baca Juga: Ketua TSAK Jekan Raya Meninggalkan 4 Orang Anak, Dikenal Baik dan Ulet saat Padamkan Karhutla

“Kami terus mengimbau agar masyarakat segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan sampai menunggu berat,” tegasnya.

Ia berharap kondisi kemarau segera berakhir sehingga hujan dapat membantu mengurangi asap dan dampak kesehatan yang ditimbulkan karhutla.

“Mudah-mudahan kalau nanti hujan turun, kemarau lewat, dan asap berkurang, otomatis ISPA ini akan turun dengan sendirinya,” pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
kabut asap BPBD Kalteng ispa karhutla Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)