Dinkes Kalteng Sebut Orang Kena ISPA Tak Serta-merta Dikaitkan dengan Kabut Asap

rifqi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:30 WIB
dr Suyuti Syamsul
dr Suyuti Syamsul

PALANGKA RAYA - Kasus infeksi pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah kembali terus menjadi perhatian seiring memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng mengingatkan, setiap kasus ISPA tidak bisa langsung disebut sebagai dampak kabut asap.

Baca Juga: Trauma Kabut Asap 2015 Terulang, Eni Kini Cemas Melihat Anaknya Sesak Napas

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dr. Suyuti Syamsul mengatakan, ISPA merupakan diagnosis yang cukup umum dan bisa muncul dalam berbagai kondisi, termasuk ketika tidak terjadi karhutla. Karena itu, peningkatan kasus ISPA tidak otomatis menunjukkan seluruhnya disebabkan paparan asap karhutla.

“ISPA itu mau ada karhutla, tidak ada karhutla, pasti ada kasus ISPA. Karena ISPA itu adalah diagnosa keranjang sampah,” kata Suyuti usai kegiatan pembagian masker dan obat-obatan di Bundaran Besar Palangka Raya, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, istilah ISPA digunakan untuk berbagai keluhan pada saluran pernapasan. Batuk, pilek hingga bersin dapat masuk dalam kelompok diagnosis tersebut. 

Kondisi itu membuat hubungan langsung antara kasus ISPA dengan kabut asap menjadi sulit ditentukan hanya berdasarkan jumlah kasus.

“Semua penyakit kalau sudah dokter malas mendiagnosa, ya sudah ISPA. Mau batuk kah, mau pilalek kah, mau bersin-bersin, bisa ditarik ke situ. Jadi agak sulit untuk melihat apakah ISPA itu terkait dengan karhutla atau bukan,” jelasnya.

Baca Juga: 1.782 Kasus Karhutla, 70.470 Warga Kalteng Kena ISPA

Meski paparan asap tetap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, Suyuti menilai kondisi ISPA di Kalteng saat ini belum menunjukkan lonjakan yang sampai pada kondisi luar biasa. Ia menyebut, hingga kini tidak ada kabupaten maupun kota yang menetapkan kejadian luar biasa (KLB) terkait ISPA.

“Kalau menyebut naik pasti ada, tapi kalau melonjak sih enggak. Sampai sekarang juga enggak ada kabupaten yang menyebutnya KLB. Berarti kan enggak ada lonjakan drastis,” ujarnya.

Suyuti juga memastikan tidak ada laporan kematian yang secara spesifik didiagnosis akibat karhutla. Sistem pencatatan di fasilitas kesehatan, kata dia, tidak menggunakan karhutla sebagai penyebab langsung kematian.

“Kalau nanya ke saya apakah ada yang meninggal karena karhutla, jawaban saya enggak ada. Karena memang enggak ada diagnosis orang yang meninggal karena karhutla,” tegasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa asap dapat memperburuk kondisi orang yang sudah memiliki penyakit tertentu. Kelompok dengan asma menjadi salah satu yang dinilai lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga: Ada 22 Rumah dan Ruang Oksigen yang Tersebar di Palangka Raya

“Bisa saja kalau dia misalnya punya penyakit penyerta. Maka yang punya asma itu risikonya tentu meningkat. Sebaiknya mereka memakai masker,” katanya.

Sementara itu, Pemprov Kalteng terus memberikan dukungan untuk menghadapi dampak kabut asap, salah satunya melalui penyediaan rumah oksigen. Namun Suyuti menegaskan, penanganan kesehatan akibat karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.

Menurut dia, kabupaten dan kota memiliki peran besar karena sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas, berada di bawah kewenangan pemerintah daerah setempat.

“Yang namanya Kalimantan Tengah ini kan bukan hanya pemprov. Bahkan yang punya fasilitas kesehatan lebih banyak itu kabupaten kota. Yang namanya puskesmas itu bukan punya pemprov,” jelasnya.

Karena itu, keberadaan fasilitas pendukung seperti rumah oksigen di daerah harus disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing. Pemprov, kata Suyuti, lebih berperan memperkuat penanganan yang dilakukan kabupaten dan kota.

“Kita itu sebetulnya sudah berlebihan. Sampai provinsi membuat kegiatan rumah oksigen itu bukan kewajiban kita sebetulnya. Tapi sudahlah, kita bantu,” ujarnya.

Baca Juga: Kualitas Udara Kalteng Masih Berbahaya, Anak Sekolah Masih Menerapkan PJJ

Dukungan juga datang dari kelompok masyarakat. Suyuti menyebut sejumlah komunitas telah ikut menyediakan rumah oksigen sebagai bentuk kepedulian menghadapi kondisi udara akibat karhutla.

Salah satunya kelompok pencegahan bencana Muhammadiyah yang telah membuat tiga rumah oksigen. Kegiatan tersebut dilakukan dengan dukungan pembiayaan dari Lazismu.

“Kalau misalkan ada komunitas atau kelompok masyarakat yang mau bikin rumah oksigen, ada banyak. Bisa koordinasi, bisa datang. Kita saling bantu,” tuturnya.

Dalam kegiatan pembagian masker di Bundaran Besar tersebut, Dinkes Kalteng juga membagikan vitamin serta obat-obatan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh serta sirup yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Suyuti menjelaskan, pemberian vitamin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh masyarakat di tengah situasi kualitas udara yang kurang baik. Sementara sirup disiapkan terutama untuk anak-anak dengan mempertimbangkan dosis penggunaannya.

“Vitamin itu dalam rangka menaikkan daya tahan tubuh saja. Kalau sirup untuk anak-anak,” pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
kabut asap dr Suyuti Syamsul ispa karhutla Dinkes Kalteng