Poltekkes Palangka Raya dan BP3MI Kalsel Latih 20 Calon Pekerja ke Jepang

Ismail • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:30 WIB
Pembukaan Pelatihan caregiver lansia dan Bahasa Jepang yang dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Palangka Raya bersama BP3MI Kalsel, Jumat (18/9/2026). FOTO HUMAS POLTEKKES
Pembukaan Pelatihan caregiver lansia dan Bahasa Jepang yang dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Palangka Raya bersama BP3MI Kalsel, Jumat (18/9/2026). FOTO HUMAS POLTEKKES

PALANGKA RAYA - Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Palangka Raya dan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalsel melatih 20 alumni Poltekkes sebagai calon pekerja migran ke Jepang.

Pelatihan caregiver lansia dan Bahasa Jepang ini berlangsung selama 3 bulan, 17 September – 15 Desember 2026 di Palangka Raya. Program ini dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalteng Farid Wajdi, di Kampus Poltekkes Palangka Raya, Jumat (18/9/2026).

Pembukaan dihadiri Perwakilan BP3MI Kalsel Fachrizal SP MM, Direktur Poltekkes Kemenkes Palangka Raya Dr Agus Wijanarka SSiT MKes beserta jajaran, pejabat Disnakertrans Kalteng, dan Tim Ahli Menteri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Lalu Ahmad Supran.

Direktur Poltekkes Palangka Raya Dr Agus Wijanarka SSiT MKes mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dan komitmen bersama, tidak bisa berjalan sendiri.Melalui UPK SDMK, Poltekkes memberikan pembekalan kompetensi caregiver, pembelajaran Bahasa Jepang, menyiapkan instruktur, serta melakukan pendampingan dan evaluasi.

"Kami apresiasi Disnakertrans Kalteng, BP3MI, dan semua pihak yang mendukung aspek ketenagakerjaan dan pelindungan calon Pekerja Migran Indonesia," kata Agus.

Peserta akan mengikuti dua komponen utama, yakni kompetensi caregiver lansia sebanyak 160 jam pelajaran dan Bahasa Jepang 640 jam pelajaran. Satu jam pelajaran setara 45 menit.

Selama pelatihan, peserta tinggal di asrama Bapelkes. Asrama bukan hanya tempat tinggal, tapi juga untuk membentuk disiplin, kemandirian, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Perwakilan BP3MI Kalsel Fachrizal SP MM menyebut pada 2025 ada 16 orang asal Kalteng yang bekerja di Jepang dan pada 2026 meningkat menjadi 28 orang. Ia menilai peluang kerja di Jepang masih terbuka luas.

"Bekerja di luar negeri tidak sulit, tapi tidak mudah. Ada proses panjang, mulai syarat kompetensi teknis dan bahasa, administrasi dokumen, hingga penempatan," ujarnya. 

Sementara itu, Kadisnakertrans Kalteng Farid Wajdi berpesan agar peserta memiliki motivasi kuat dan mempelajari negara tujuan. Mulai dari makanan, penggunaan peta, sistem transportasi, hingga sistem pembayaran dan perbankan yang menggunakan tulisan kanji.

"Yang tak kalah penting adalah budaya setempat. Misalnya bertanya umur atau pekerjaan, apakah sopan atau justru dilarang di sana," ujar Farid. (sma)

Editor : Ayu Oktaviana
Dr Agus Wijanarka pekerja migran caregiver Poltekkes Kemenkes Palangka Raya Disnakertrans Kalteng