PALANGKA RAYA–Kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 10.240 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Juni hingga awal Oktober 2026.
Angka tersebut menunjukkan kasus ISPA masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu diwaspadai di tengah memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Bahkan, dalam empat bulan terakhir, jumlah kasus sempat mengalami kenaikan cukup tajam.
Baca Juga: Dampak Karhutla Kalteng: 12.566 Hektare Terbakar, ISPA Tembus 91 Ribu
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, pada Juni tercatat 1.849 kasus ISPA. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 2.293 kasus pada Juli, sebelum kembali melonjak pada Agustus hingga mencapai 3.104 kasus.
Memasuki September, jumlah kasus mulai mengalami penurunan menjadi 2.900 kasus. Sementara pada awal Oktober tercatat tambahan sekitar 190 kasus. “September 2.900 kasus, kemudian Oktober 190 kasus. Totalnya 10.240 kasus,” kata Riduan, Minggu (4/10/2026).
Jika melihat akumulasi tersebut, rata-rata kasus ISPA mencapai sekitar 1.900 kasus setiap bulan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kasus tidak hanya muncul pada satu kelompok masyarakat tertentu, melainkan tersebar pada hampir seluruh kelompok umur.
Riduan menyebut proporsi kasus pada kelompok usia berada di kisaran 30 hingga 35 persen. Artinya, gangguan kesehatan akibat kondisi udara tidak hanya mengancam anak-anak atau kelompok lanjut usia, tetapi juga masyarakat usia produktif.
“Artinya tidak hanya kena pada umur tertentu, tapi hampir semua usia bisa kena ISPA,” ujarnya.
Baca Juga: Trauma Kabut Asap 2015 Terulang, Eni Kini Cemas Melihat Anaknya Sesak Napas
Mengantisipasi dampak kabut asap yang masih terjadi, Pemko Palangka Raya bersama Dinkes menyiagakan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Fasilitas tersebut berada di puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), hingga fasilitas kesehatan lainnya. Sejumlah Rumah Oksigen bahkan disiapkan agar dapat memberikan pelayanan selama 24 jam apabila kondisi membutuhkan penanganan lebih cepat.
Keberadaan fasilitas ini menjadi bagian dari langkah antisipasi apabila kualitas udara kembali memburuk dan jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan meningkat. “Totalnya sampai kemarin ada 47 Rumah Oksigen yang tersebar di Kota Palangka Raya,” jelasnya.
Dalam pengoperasiannya, Dinkes tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Mahasiswa semester akhir juga dilibatkan melalui kerja sama dengan Universitas Eka Harap untuk membantu pelayanan di fasilitas tersebut.
Jumlah Rumah Oksigen, kata Riduan, masih sangat mungkin ditambah. Pemerintah akan melihat perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Baca Juga: Ada 22 Rumah dan Ruang Oksigen yang Tersebar di Palangka Raya
“Kalau memang cuaca bertambah jelek, insyaallah kita perluas,” katanya.
Di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya membaik, Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Warga yang memang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Masyarakat juga diminta tidak menganggap sepele gejala gangguan pernapasan. Terutama jika mulai mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan atau keluhan kesehatan lainnya.
Riduan meminta warga segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan tersebut.
“Kalau sakit cepat-cepat berobat. Puskesmas membantu,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi sesak napas juga dapat berkaitan dengan penyakit penyerta yang sudah dimiliki seseorang, salah satunya asma. Ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap, kondisi tersebut dapat semakin berat dan berpotensi membutuhkan penanganan medis.
Selain menyiagakan fasilitas kesehatan, Dinkes juga terus melakukan pembagian masker kepada masyarakat dan kelompok yang membutuhkan.
Permintaan masker datang dari berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, sekolah, perguruan tinggi hingga perkantoran. Dalam satu kali permintaan, Dinkes dapat menyalurkan sekitar 10 hingga 20 kotak masker.
Tidak hanya masker, Dinkes juga mulai menyiapkan vitamin untuk mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat selama kondisi kabut asap.
“Sebagian kita sertai vitamin. Insyaallah, ada beberapa waktu ke depan kita juga menyiapkan vitamin dengan masker,” ujar Riduan.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan perkembangan kasus ISPA dan kondisi kualitas udara di Palangka Raya.
Baca Juga: Wali Kota Akui Banyak Orang Tua Keluhkan PJJ Selama Kabut Asap, Apa Solusi dari Pemerintah?
Di sisi lain, Dinkes memastikan kondisi anggaran tidak mengganggu ketersediaan obat untuk menangani masyarakat yang terdampak gangguan pernapasan.
Riduan menjelaskan, pengadaan obat di Dinkes dirancang untuk memenuhi kebutuhan hingga 18 bulan. Dengan pola tersebut, terdapat cadangan sekitar enam bulan yang dapat digunakan ketika terjadi kondisi darurat.
Cadangan itu dapat dimanfaatkan untuk menghadapi berbagai kondisi, termasuk bencana banjir maupun kemarau yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Untuk situasi kabut asap saat ini, stok yang tersedia mencakup obat-obatan untuk penanganan ISPA, vitamin, serta kebutuhan kesehatan lainnya.
“Insyaallah tercukupi. Kemudian didukung oleh BTT karhutla, insyaallah tercukup,” katanya.
Baca Juga: Kabut Asap Gambut: Partikel Kecil, Dampak Besar bagi Kesehatan
Meski kasus ISPA sudah menembus lebih dari 10 ribu kasus, hingga kini Dinkes menyatakan belum menerima laporan mengenai adanya kematian yang berkaitan dengan kondisi kabut asap.
Begitu pula dengan laporan pasien yang harus menjalani rawat inap akibat dampak langsung kabut asap. Namun, kondisi tersebut tetap diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti asma.
Riduan mengatakan, pasien dengan penyakit penyerta dapat mengalami kondisi lebih berat ketika terpapar asap dan mengalami sesak napas.
“Belum terlapor ke kami. Tapi biasanya itu penyakit penyertanya asma, pasti dirawat,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana