PALANGKA RAYA – Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya menyiagakan layanan oksigen gratis selama 24 jam untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat kabut asap dan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Layanan tersebut terbuka bagi seluruh warga yang membutuhkan tanpa dipungut biaya. Masyarakat yang mengalami sesak napas atau membutuhkan bantuan oksigen dapat mengakses layanan emergensi melalui pintu Instalasi Gawat Darurat (UGD) di sisi kanan gedung Puskesmas Menteng.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Menteng, Didik Purwanto, mengatakan kesiapsiagaan layanan oksigen tersebut merupakan instruksi Pj Wali Kota Palangka Raya dan Kepala Dinas Kesehatan.
“Layanan oksigen gratis ini dibuka selama 24 jam untuk masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik saat diwawancarai di Puskesmas Menteng, Kamis (8/10/2026) siang.
Menurutnya, jumlah warga yang memanfaatkan layanan oksigen tersebut setiap harinya cukup fluktuatif. Warga dapat datang sewaktu-waktu, termasuk pada malam hingga dini hari.
Kunjungan layanan oksigen rata-rata berkisar satu hingga lima orang per hari dan tidak lebih dari 15 orang. Sebagian warga datang karena mengalami sesak napas secara tiba-tiba, terutama yang memiliki riwayat asma.
Didik juga meluruskan anggapan bahwa Puskesmas Menteng tutup pada malam hari. Menurutnya, yang berhenti beroperasi di luar jam pelayanan reguler hanya loket pendaftaran rawat jalan.
“Untuk layanan emergensi dan oksigen gratis 24 jam tetap bisa diakses melalui pintu UGD di sebelah kanan gedung puskesmas,” jelasnya.
Di sisi lain, penanganan kasus ISPA di wilayah kerja Puskesmas Menteng terus dipantau. Berdasarkan rekapitulasi pelayanan, jumlah pasien ISPA sempat mencapai sekitar 500 orang pada Agustus 2026.
Angka tersebut kemudian mengalami penurunan menjadi sekitar 400 pasien pada September.
Didik mengatakan data pelayanan pasien ISPA direkap secara berkala dan diperbarui setiap hari melalui portal resmi Pemerintah Kota Palangka Raya.
“Perkembangan data dapat dipantau setiap hari pukul 16.00 WIB melalui portal Karhutla Pemko, yang merangkum data ISPA dari 11 puskesmas se-Kota Palangka Raya,” katanya.
Dari profil pasien, kasus ISPA di wilayah Puskesmas Menteng didominasi anak-anak, balita hingga remaja. Sekitar 50 persen dari total kunjungan pasien ISPA berasal dari kelompok usia anak-anak.
Kelompok tersebut dinilai lebih rentan karena daya tahan tubuh yang belum maksimal. Risiko penularan juga meningkat ketika terdapat anggota keluarga yang mengalami infeksi di rumah.
“Mayoritas pasien yang datang berobat mengeluhkan gejala awal berupa batuk, pilek, yang kerap disertai demam. Selain anak-anak dan balita, fokus perhatian kami juga tertuju pada kelompok rentan lainnya seperti lansia serta warga yang memiliki riwayat penyakit bawaan jantung atau paru-paru,” jelas Didik.
Untuk pembiayaan, Didik memastikan penanganan pasien ISPA secara umum ditanggung BPJS Kesehatan atau diberikan secara gratis sesuai ketentuan pelayanan.
Begitu pula dengan tindakan oksigenasi yang disediakan tanpa biaya bagi warga yang membutuhkan.
Dalam pelayanan, Puskesmas Menteng membagi penanganan berdasarkan kelompok usia. Klaster 2 menangani kesehatan ibu dan anak hingga usia 18 tahun dengan manajemen Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), sedangkan Klaster 3 menangani pasien dewasa dan lansia.
Jika kondisi pasien menunjukkan tanda-tanda memburuk atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan, seperti rontgen maupun penanganan dokter spesialis, puskesmas akan melakukan rujukan ke rumah sakit.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan medis sesuai tingkat kebutuhan dan kondisi kesehatannya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana