Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Video Angin Puting Beliung Menghantam Bagendang Buat Pohon Tumbang, BMKG Beri Penjelasan

Agus Pramono • Selasa, 7 Oktober 2025 | 18:56 WIB
Dampak angin puting beliung
Dampak angin puting beliung

SAMPIT – Sebuah video yang memperlihatkan pusaran angin menyerupai puting beliung di Desa Bagendang Permai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh akun Instagram @sampitvgram yang memperlihatkan fenomena angin berputar disertai tumbangnya sejumlah pohon di sekitar lokasi.

“Di pinggir Pulau Bagendang semalam, Min, turunnya. Habis pohon rabahan gawinya,” tulis akun @nanuikiku dalam kolom komentar, Selasa (7/10).

Video berdurasi beberapa detik itu memperlihatkan pusaran angin yang tampak cukup kuat di atas lahan terbuka. Sejumlah warga yang merekam kejadian terdengar panik dan memilih menjauh dari lokasi kejadian.

Menanggapi fenomena tersebut, Prakirawan Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Haji Asan Sampit, Rahmat Wahidin Abdi, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatan radar cuaca Palangka Raya, memang terdapat indikasi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Bagendang. Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, dan pusaran angin.

“Berdasarkan citra radar cuaca Palangkaraya memang ada indikasi pertumbuhan awan CumuloNimbus (Cb) atau awan konvektif yang biasanya memicu cuaca buruk di wilayah Bagendang,” jelasnya saat dikonfirmasi Kalteng Pos, Selasa (7/10/2025).

Ia menambahkan, kondisi suhu yang cukup panas di wilayah tersebut turut berperan dalam pembentukan pusaran angin. Suhu tinggi membuat tekanan udara di permukaan menjadi rendah, sehingga memicu turunnya massa udara dari awan konvektif dan membentuk pusaran angin. 

“Hal tersebut biasanya juga didukung oleh suhu yang cukup panas sehingga tekanan udara pun menjadi rendah dan memicu turunnya massa udara atau pusaran angin dari awan konvektif tersebut,” lanjutnya.

Rahmat menyebut, dari pengamatan radar terlihat bibit awan konvektif mulai terbentuk sekitar pukul 15.38 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 15.58 WIB. Tak lama setelah fenomena pusaran angin itu, wilayah Bagendang juga sempat diguyur hujan.

“Dari citra radar, bibit awan tersebut sudah mulai terbentuk sejak pukul 15.38 WIB, puncaknya sekitar 15.58 WIB, dan setelah itu memang disertai hujan,” ujarnya.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Menurutnya dari video tersebut pusaran angin belum sampai menyentuh tanah. 

“Jika dilihat dari video masa udaranya belum sampai ke permukaan karena disambung dengan hujan terlihat dari pantauan citra radar setelah jam 15.58,” tandasnya. (mif)

Editor : Agus Pramono
#bagendang #bmkg #angin puting beliung #sampit