SAMPIT-Video pendek yang menampilkan seorang pelajar SMPN 1 Sampit memperlihatkan sesuatu yang disebut mirip belatung dalam lauk program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu kegaduhan di media sosial.
Rekaman itu tersebar pada akhir pekan lalu dan langsung menimbulkan berbagai spekulasi, terutama karena di dalam video terdengar suara siswa yang mengatakan benda pada telur tersebut adalah ulat.
Terkait itu, pihak sekolah akhirnya melakukan penelusuran internal untuk memastikan informasi itu.
Dari hasil pengecekan, pihak sekolah menyimpulkan bahwa objek yang terekam dalam video tersebut bukan belatung, melainkan bagian dari olahan telur yang bentuknya dipersepsikan berbeda oleh siswa.
Penegasan ini disampaikan setelah sekolah meminta klarifikasi langsung kepada siswa yang merekam serta meninjau rekaman CCTV.
Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, menjelaskan bahwa siswa yang memublikasikan video tersebut ternyata mendapat pengaruh dari informasi yang beredar sebelumnya tentang MBG.
Hal itu membuatnya mengira bentuk tertentu pada telur adalah sesuatu yang serupa dengan pemberitaan, padahal setelah diperiksa, tidak ditemukan benda asing pada menu makanan tersebut.
“Setelah saya lakukan konfirmasi, siswa bersangkutan memang memiliki persepsi dan terkontaminasi oleh pemberitaan MBG. Ia membayangkan garis pada telur itu sebagai sesuatu yang lain, padahal dari olahan yang diberikan tim MBG itu wajar karena telur dicampur saus atau mayones. Setelah dikonfirmasi, anak juga mengetahui bahwa itu hanya hayalan, bayangan di pikirannya, bukan kenyataan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ia menegaskan bahwa kesimpulan tersebut juga didukung hasil pengecekan rekaman kamera pengawas.
Tidak ada temuan benda asing seperti yang disampaikan dalam video. Pihak sekolah, kata Suyoso, telah memberikan pembinaan kepada siswa tersebut dan kembali mengingatkan seluruh pelajar agar mengikuti alur pelaporan resmi bila menemukan keluhan terkait makan MBG di kemudian hari.
“Hasil penjejakan CCTV tidak ditemukan benda seperti yang diceritakan. Telurnya sama dengan yang lainnya dan dimakan. Kami sudah membimbing dan menegaskan bahwa jika ada keluhan harus dilaporkan ke guru agar segera diteruskan ke pihak MBG,” tambahnya.
Dalam video tersebut tampak beberapa siswa lain berada satu kelas dengan perekam. Menjawab pertanyaan apakah siswa-siswa lain memiliki persepsi serupa, Suyoso menjelaskan bahwa tidak ada siswa lain yang melaporkan hal yang sama. Semua siswa lain, katanya, mengonsumsi makanan tanpa menemukan kejanggalan.
“Anak-anak lain menikmati makanannya masing-masing. Tidak ada yang memiliki imajinasi seperti dalam video itu. Buktinya, makanan yang disediakan habis,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua SPPG Yos Sudarso selaku penyedia MBG, Dinda Tulus, mengatakan pihaknya dan pihak sekolah telah melakukan evaluasi bersama terkait kejadian tersebut.
Ia menyatakan SOP pengolahan maupun pengecekan makanan akan diperketat agar kesalahpahaman atau kekeliruan persepsi tidak kembali terjadi.
“Intinya, kami sama-sama saling evaluasi supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. SOP juga akan kami perketat,” kata Dinda.
Terkait penegasan pihak sekolah bahwa objek tersebut bukan belatung, Dinda menyebut pihaknya belum dapat memastikan karena pada saat kejadian perwakilan SPPG tidak berada di lokasi.
Namun, ia menegaskan bahwa evaluasi tetap dilakukan dan koordinasi dengan sekolah akan diperkuat.
“Kalau saat itu kami tidak berada di sekolah, jadi kami belum bisa memastikan. Tapi evaluasi tetap kami lakukan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar setiap temuan atau keluhan dari sekolah bisa disampaikan langsung kepada pihaknya agar dapat ditindaklanjuti tanpa harus melewati proses yang dapat memicu kesimpangsiuran di publik.
“Harapannya, jika terjadi kendala atau ada kekurangan di makanan, seharusnya langsung ke SPPG saja biar bisa saling komunikasi,” tegasnya.(mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana