Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Aman Kotim Sebut Hutan 1.000 Hektare di Kecamatan Antang Kalang Dibabat Habis

Agus Pramono • Selasa, 9 Desember 2025 | 16:35 WIB
Kondisi hutan di sana.WARGA
Kondisi hutan di sana.WARGA

 

SAMPIT-Pembukaan hutan secara masif di Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu kekhawatiran masyarakat.

Aktivitas dugaan pembabatan hutan oleh perusahaan di wilayah itu telah mengubah wajah kawasan hutan dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang semakin berat ditanggung warga.

Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Kotim, Hardi P Hady, menyampaikan bahwa pembukaan lahan oleh PT Bintang Sakti Lenggana (BSL) berlangsung di area yang sebagian besar masih berupa hutan utuh. Temuan warga menunjukkan bahwa kawasan yang seharusnya tetap menjadi ruang ekologis kini dibabat.

“Di sana itu masih hutan sebenarnya, lebih sebagian besarnya hutan. Tapi mereka masih menggarap,” ujar usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di gedung DPRD Kotim, Senin (8/12/2025) kemaren.

Menurutnya, laju pembabatan berlangsung cepat dalam dua tahun terakhir. Warga memperkirakan sekitar seribu hektare hutan sudah terbuka, dengan hampir separuhnya telah ditanami sawit dan mulai berproduksi. Pembukaan baru terus berjalan, bahkan lebih dari 500 hektare di antaranya kini memasuki masa panen.

“Yang sudah terbuka tidak kurang dari 1000 hektare. Yang sudah ditanam dan berproduksi itu 500 hektare. Dan dalam satu tahun terakhir ini saja, 500 sampai 600 hektare lagi kembali terbuka,” jelasnya.

Menurutnya dampaknya sudah mulai dirasakan warga. Hardi menuturkan, perubahan tutupan lahan membuat daerah aliran sungai kehilangan penyangga alami sehingga volume air naik ketika hujan tiba. Intensitas banjir yang meningkat diduga menjadi bukti nyata kerusakan tersebut.

“Sekarang musim hujan langsung kelihatan meluap air. Kalau dulu sepuluh tahun sekali banjir di daerah kami, sekarang bisa sepuluh kali dalam satu tahun,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun wilayah itu tidak memiliki topografi ekstrem seperti di Pulau Jawa atau Sumatera, dampaknya tetap signifikan terhadap keseharian masyarakat. Rumah terendam, dan membuat aktivitas terhenti
“Kalau banjir masuk rumah, kan nggak bisa kerja lagi. Dampaknya tetap ada meskipun kami tidak tinggal di daerah yang rawan longsor,” imbuhnya. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#musim hujan #topografi #ekologis #sawit #Kotawaringin Timur (Kotim) #kawasan hutan #PT Bintang Sakti Lenggana #lahan #Aliansi Masyarakat Adat Nusantara #pembukaan hutan #rapat dengar pendapat