Sejak pertama kali terdeteksi pada Rabu (28/1/2026), upaya pemadaman telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim. Lokasi api tersebut berada di belakang wilayah Sawit Raya.
Kondisi lahan gambut yang tebal menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Meski permukaan lahan telah disiram air, api diduga masih menyala di bagian dalam tanah.
Kedalaman gambut di lokasi kebakaran bahkan diperkirakan mencapai 60 hingga 80 sentimeter, sehingga membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara cepat.
Hari kedua, Kamis (29/1/2026), pantauan tim yang terjun ke lokasi melaporkan bahwa api disinyalir masih aktif. Meski tak terlihat dan suara nyala api masih terdengar. Api diperkirakan masih aktif di bawah tanah.
Memasuki hari ketiga, pantauan BPBD Kotim menggunakan pesawat nirawak (drone, red) pada Jumat (30/1/2026) masih memperlihatkan kepulan asap dan titik panas di lokasi kebakaran. Kondisi itu membuat tim BPBD Kotim kembali melakukan pengecekkan.
“Asapnya masih ada. Itu berarti api masih aktif di bawah permukaan, di lapisan gambut,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Jumat kemaren.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kotim dalam periode dua hari terakhir sejak Kamis lalu tidak sepenuhnya mampu memadamkan api.
Air hujan nampaknya belum cukup membasahi lapisan gambut yang menjadi sumber utama bara api di dalam tanah.
Wilayah Kotim kembali diguyur hujan deras pada Jumat sore hingga malam hari. Namun, kondisi tersebut tetap belum mampu memadamkan api secara menyeluruh di lokasi karhutla Desa Bangkuang Makmur.
Memasuki hari keempat, hari ini, BPBD Kotim kembali menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan proses pendinginan.
Kepulan asap masih terlihat membumbung di lokasi kejadian, menandakan api di dalam tanah masih aktif.
“Hari ini dilakukan proses pendinginan karena masih ada asap yang keluar. Area yang terbakar berada di bawah permukaan tanah,” kata Multazam, Sabtu siang.
Berdasarkan hasil pembaruan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar juga mengalami perubahan.
Dari laporan awal seluas 8,5 hektare, hasil analisis terbaru melalui pemantauan udara menggunakan pesawat nirawak menunjukkan luas karhutla mencapai 13,39 hektare.
“Kami melakukan koreksi luasan di Bangkuang Makmur. Berdasarkan analisis dari pantauan drone, luas yang awalnya 8,5 hektare kini menjadi 13,39 hektare,” pungkasnya. (mif)
Editor : Agus Pramono