SAMPIT – Nama Cok Orda Putra Legawa, kini resmi mengisi kursi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Ia menggantikan pelaksana tugas (Plt) sebelumnya, Ady Candra usai serah terima jabatan di kantor Diskominfo Kotim, Senin (2/2/2026).
Bagi birokrasi daerah, ia bukan sosok asing. Rekam jejaknya panjang, latar pendidikannya kuat, dan portofolio prestasinya tak sedikit. Dari dunia riset, perencanaan, hingga inovasi daerah, pria yang akrab disapa Coki ini datang dengan bekal lengkap untuk memimpin urat nadi informasi pemerintah daerah.
Pria kelahiran Barito Utara, 20 Februari 1976 ini sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah pada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kotim. Dunia perencanaan dan data bukan hal baru baginya.
Pendidikan S1 ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) bidang Perencanaan Pengembangan Wilayah, sementara gelar magister diraih dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Aarhus University, Denmark, dalam bidang Coastal and Marine Resources Management.
Tak hanya akademik, ia juga dikenal aktif dalam berbagai pelatihan strategis, mulai dari Digital Leadership Academy kerja sama National University of Singapore dan Kominfo RI, sertifikasi Basic Public Relations ANTARA, hingga pelatihan transformasi digital nasional bersama BSSN dan Bappenas.
Prestasinya pun mencatatkan namanya sebagai PNS Berprestasi Kalteng 2022, Juara 1 Nasional Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan (SINOPADIK) 2019, serta Juara 2 Pengucapan Panca Prasetya Korpri Kotim 2007.
Kini, memasuki babak baru sebagai Kepala Diskominfo Kotim, ia langsung berbicara kerja, bukan seremoni. Ia menegaskan bahwa program 100 hari menjadi pijakan awal membangun fondasi komunikasi dan data daerah.
“Dalam waktu dekat program 100 hari akan kami laksanakan. Salah satu target utama kami adalah membenahi website Pemkab Kotim. Kami ingin data itu up to date, valid, dan berkelanjutan agar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, ia juga menyoroti persoalan desa blankspot yang masih terjadi di Kotim. Menurutnya, data terakhir menunjukkan masih ada desa yang belum terjangkau jaringan secara optimal dan perlu verifikasi lapangan.
“Dalam 100 hari kami akan evaluasi desa blankspot di Kotim. Data terakhir yang kami terima masih ada lima desa. Ini akan kami cek langsung di lapangan, kami gabungkan data dari berbagai OPD untuk validasi infrastruktur jaringan,” tegasnya.
Fokus lainnya adalah pembenahan statistik data sektoral yang selama ini dinilai masih lemah dan belum terintegrasi optimal. Menurutnya data sektoral Kotim baru memenuhi satu variabel. Untuk rencana aksi, akses data, dan redundansi masih lemah.
Hal itu Ini akan dibenahi bertahap melalui koordinasi antar-OPD, karena data ini berpengaruh langsung pada Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), perencanaan program, dan penganggaran. Ia bahkan mengingatkan, sistem pemerintahan kini sepenuhnya berbasis digital dan data.
“Kalau data tidak lengkap, itu berdampak langsung pada anggaran. SIPD sekarang sudah menjadi rujukan utama. Termasuk pengawasan MCP KPK. Kalau data kita lengkap, update, dan akurat, nilai MCP kita juga akan meningkat,” katanya.
Untuk wilayah desa terpencil, khususnya di wilayah utara Kotim, Coki juga menyiapkan pendekatan kolaboratif dan inovatif, termasuk pemanfaatan teknologi alternatif.
“Desa terpencil kelemahannya ada di jaringan dan listrik. Kita bisa intervensi dengan solusi seperti starlink atau solar cell untuk daerah yang belum terjangkau PJU. Ini bagian dari kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat infrastruktur komunikasi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Diskominfo tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan sinergi lintas OPD, pemerintah desa, hingga sektor swasta. Ia ingin Diskominfo bukan sekadar corong informasi, tetapi pusat data, simpul komunikasi, dan penggerak transformasi digital daerah.
“Kita akan dorong kolaborasi, termasuk dengan perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah desa terpencil agar ikut berkontribusi dalam penyediaan infrastruktur komunikasi,” imbuhnya.(mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana