Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Ketua Harian DAD Kotim Dukung Penggarapan Film Tanah Dayak, Dorong Cerita Seimbang: Mistis, Budaya, Hingga Romansa

Agus Pramono • Senin, 9 Februari 2026 | 12:00 WIB
Ketua Harian DAD Kotim, Gahara mengomentari rencana film Tanah Dayak.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Ketua Harian DAD Kotim, Gahara mengomentari rencana film Tanah Dayak.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

SAMPIT – Penggarapan film Tanah Dayak yang berlatar tragedi Sampit menyita pergatian banyak pihak. Film tersebut, akan dibuat dengan nuansa horror saat tragedi Sampit terjadi.

Terkait itu, Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyatakan dukungan terhadap produksi film horor yang digarap oleh rumah produksi Borneo Picture itu.

Dukungan tersebut diberikan sepanjang penggarapan film dilakukan secara serius, menghormati nilai adat, serta menyajikan cerita yang berimbang antara unsur horor, budaya, dan kemanusiaan.

Ketua Harian DAD Kotim, Gahara, mengatakan kehadiran sutradara yang tertarik mengangkat dunia perfilman Kalimantan Tengah merupakan hal yang sangat positif, terutama jika dikemas dengan pendekatan dari berbagai aspek.

“Saya sangat mendukung adanya sutradara yang tertarik mengangkat perfilman di Kalimantan Tengah. Dari perbincangan yang saya dengar, memang lebih ke cerita mistis dan horor. Itu saya setuju, tapi juga harus didukung fakta-fakta sejarah dari sumber yang benar-benar tahu dan terlibat langsung,” ujarnya kepada kaltengpos.jawapos.com, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, film berlatar budaya dan sejarah lokal tidak melulu terpaku pada satu aspek. Tetapi lanjutnya, perlu dihiasi dengan alur cerita yang menarik dan berlapis. Hal itu agar lebih bisa penonton luas.

“Alur ceritanya harus dibuat menarik. Ada horornya, ada lucunya, ada romantisnya juga. Jadi tidak kaku dan tidak satu warna. Film itu harus hidup,” tegasnya.

Gahara mencontohkan film Kuyang versi Banjar yang mampu viral secara nasional karena tidak hanya mengandalkan unsur horor, tetapi juga mengangkat budaya lokal secara natural dan kuat.

“Kita belajar dari film Kuyang. Di situ ada budaya, ada tradisi, seperti lomba dayung. Unsur budaya itu justru membuat filmnya menarik dan berbeda,” katanya.

Ia menilai konsep serupa sangat relevan jika diterapkan dalam film berlatar Dayak di Kalimantan Tengah, karena selain memperkuat identitas lokal, juga membuka peluang promosi budaya dan kearifan lokal ke tingkat nasional.

“Ini bukan hanya soal film, tapi juga soal mengangkat budaya, kearifan lokal, dan peluang-peluang lain. Kita perkenalkan Kalimantan Tengah dengan cara yang lebih humanis dan berbudaya,” ucapnya.

Gahara juga mengapresiasi keterlibatan aktor dan aktris lokal dalam produksi film tersebut. Menurutnya, hal itu bukan hanya membanggakan masyarakat setempat, tetapi juga membuka ruang partisipasi warga dalam industri kreatif.

“Kami sebagai warga Kotim dan Kalimantan Tengah tentu bangga jika ada aktor dan aktris utama dari warga lokal yang terlibat. Ini jadi kebanggaan bersama,” ujarnya.

Ia sebagai ketua harian DAD Kotim menyatakan sikap mendukung penuh proyek film tersebut selama digarap secara profesional dan bertanggung jawab.

“Saya sebagai Ketua Harian Dewan Adat Dayak Kabupaten Kotawaringin Timur sangat-sangat mendukung. Asalkan digarap dengan serius, dengan apik, dan penuh tanggung jawab,” tegas Gahara.

Ia berharap film tersebut tidak hanya sukses secara lokal, tetapi mampu menembus pasar nasional dan menjadi tontonan masyarakat Indonesia secara luas.

“Harapannya film ini tidak hanya ditonton di Kotim atau Kalimantan Tengah, tapi bisa ditonton seantero Indonesia. Itu harapan kita bersama,” pungkasnya. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#Dewan Adat Dayak (DAD) #tragedi sampit #budaya lokal #kalimantan tengah #Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) #kearifan lokal #sejarah lokal #cerita mistis #Film Kuyang #DAD Kotim #film lokal