Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Pusat Perbelanjaan Mentaya Kian Sepi, Pedagang Resmi Menjerit Tergerus Lapak Liar di Sekitar Pasar

Agus Pramono • Rabu, 11 Februari 2026 | 13:11 WIB
Pedagang Pasar PPM keluhkan sepinya pembeli.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Pedagang Pasar PPM keluhkan sepinya pembeli.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

SAMPIT – Maraknya pedagang yang berjualan di area luar pasar Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat roda perekonomian di sejumlah pasar menurun. Hal itu membut para pedagang mengeluh akibat sepinya jualan mereka.

Kondisi itu terlihat di pasar ikan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM). Deretan kios resmi di dalam pasar tampak banyak kosong. Hal itu berbanding terbalik dengan lapak di pinggir jalan dan lapak-lapak liar di luar area pasar. Kondisi ini membuat para pedagang resmi menjerit. Sebab penghasilan mereka terus tergerus drastis dari tahun ke tahun.

Sejumlah pedagang menilai persoalan utama terletak pada lemahnya penataan pasar. Banyak pedagang berjualan bebas di badan jalan dan area luar pasar, tanpa penertiban yang tegas. Akibatnya, fungsi pasar sebagai pusat transaksi justru semakin memudar.

“Kalau memang pasar mau difungsikan lagi, ya harus ditertibkan. Pedagang-pedagang di luar itu harus dimasukkan ke dalam pasar. Di dalam ini los banyak yang kosong, tapi jualan justru ramai di jalan,” keluh Yani, pedagang ayam di Pasar PPM, Rabu (11/2/2026).

Ia mengungkapkan, dampak ekonomi yang dirasakan pedagang sangat besar, khususnya sejak maraknya pedagang luar pasar. Penurunan pendapatan bahkan mencapai angka lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan penghasilan mereka yang dulu.

“Penghasilan kami turun hampir 70 persen. Bisa dibilang tinggal 30 persen saja yang tersisa. Pembeli rumah tangga jarang masuk pasar sekarang. Yang datang itu paling dari kebun atau kapal yang bongkar muat,” ujarnya.

Meski kondisi semakin sulit, para pedagang mengaku tetap bertahan berjualan karena tidak memiliki pilihan lain. Pasar menjadi satu-satunya sumber penghidupan mereka.

Yani mengaku telah berjualan sejak tahun 2001, dan merasakan langsung perubahan besar aktivitas pasar. Menurutnya, dulu pasar selalu ramai, pembeli berdatangan, dan perputaran uang berjalan sehat.

“Dulu beda sekali. Kalau pasar rame, penghasilan kami juga rame. Sekarang sepi. Pasar ini hampir tidak berfungsi lagi. Coba lihat sendiri, banyak kios kosong. Bahkan bisa main bola saking kosongnya,” ungkapnya.

Ia juga menyayangkan belum adanya ketegasan dari pemerintah daerah dalam menata kembali pedagang liar. Menurutnya, penataan pasar seharusnya menjadi prioritas agar pedagang resmi tidak terus dirugikan.

“Kami ini pedagang resmi, punya lapak resmi. Harusnya yang di luar itu dimasukkan ke dalam pasar. Ditata ulang. Pasar masih banyak yang kosong. Kalau terus dibiarkan, pasar mati pelan-pelan,” tegasnya.

Baca Juga: MA Menangkan Pemkab Kotim Melalui PK, Sengketa Parkir Elektronik PPM Resmi Berakhir

Dari sisi penjualan, kondisi pasar yang sepi juga berdampak langsung pada volume transaksi harian. Perbedaan antara hari ramai dan hari sepi sangat mencolok.

Menurutnya saat ini para pembeli di lapak mereka hanya berasal pembeli yang berasal dari luar.

“Paling yang beli orang kebun atau kapal muatan. Sementara para ibu rumah tangga banyak memilih membeli di luar pasar,” imbuhnya.

Para pedagang berharap pemerintah daerah segera melakukan penataan menyeluruh, mulai dari penertiban pedagang liar, pengaktifan kembali fungsi pasar, hingga kebijakan yang berpihak pada pedagang resmi. Hal itu agar Pasar PPM dan pasar resmi lain kembali hidup sebagai pusat ekonomi rakyat. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#roda perekonomian #Pusat Perbelanjaan Mentaya #pusat ekonomi #pasar ppm sampit becek #Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) #penurunan pendapatan #pedagang liar