SAMPIT-Perubahan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merupakan tanda masuknya masa peralihan musim atau pancaroba.
Kepala Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menyebutkan bahwa periode April hingga Mei menjadi fase krusial peralihan dari musim hujan menuju kemarau.
Baca Juga: El Nino Datang Mengancam, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan di Seluruh Indonesia
“Secara garis besar, kemungkinan besar kita sudah memasuki fase pancaroba, kira April ke Mei ini, kita waspada terjadi fenomena bencana hidrometeorologi, salah satunya angin kencang, terus hujan lebat di beberapa wilayah Kabupaten Kotim,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, pancaroba merupakan fase perubahan musim yang secara alami memicu ketidakstabilan kondisi atmosfer. Dampaknya, berbagai fenomena cuaca ekstrem lebih sering terjadi dibandingkan periode normal.
“Itu biasanya fase perubahan musim itu ada beberapa fase, pasenya itu bisa menyebabkan beberapa efek. Bisa jadi bencana hidrometeorologi, karena di dalam masa-masa pancaroba itu biasanya kejadian ekstrem itu lebih sering terjadi,” jelasnya.
Baca Juga: BMKG Sampit Beberkan soal Potensi Rentang Waktu Musim Kemarau di Kotim Tahun 2026
Menurutnya, kondisi ini dapat memicu angin kencang, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, hingga potensi petir terutama pada siang hingga sore hari.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba, karena dapat berdampak pada keselamatan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah rawan bencana.
Selain itu, warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pohon tumbang, genangan air hingga gangguan aktivitas transportasi akibat cuaca ekstrem yang datang secara mendadak. (mif)
Editor : Ayu Oktaviana