Harga Hewan Kurban di Sampit Naik Jelang Iduladha, Imbas Kenaikan BBM
Miftahul Ilma• Selasa, 28 April 2026 | 18:31 WIB
Harga hewan kurban di Sampit naik. Miftah/kaltengpos.jawapos.com
SAMPIT – Harga hewan kurban di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami kenaikan menjelang Iduladha tahun ini.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi, terutama ongkos angkut. Kenaikan itu imbas dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang beberapa waktu lalu terjadi.
Pedagang hewan kurban di Jalan HM Arsyad, kilometer 3,5 Sampit, Daeng Beta, menjelaskan bahwa penyesuaian harga terjadi hampir pada semua jenis sapi yang dijual di pasaran.
“Ada kenaikan sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor. Pengaruh dari ongkos mobil dan BBM,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Secara umum, harga sapi kurban di Sampit bervariasi tergantung jenis dan ukuran, mulai dari kelas menengah hingga kelas premium.
“Kalau yang biasa, jenis Bali mulai Rp18 juta sampai Rp35 juta. Yang paling mahal bisa sampai Rp75 juta untuk sapi limousin ukuran besar,” katanya.
Di antara berbagai pilihan tersebut, sapi dengan kisaran harga menengah masih menjadi favorit masyarakat karena dinilai paling sesuai dengan kemampuan pembeli.
“Yang paling banyak diminati itu di kisaran Rp20 juta sampai Rp25 juta. Itu mayoritas pembeli dalam kota,” jelasnya.
Meski hewan sapi mengalami kenaikan, hal itu tidak terjadi pada hewan kambing.
Kambing tetap dijual dengan kisaran harga Rp2,5 juta hingga Rp5 juta.
Meski terjadi kenaikan harga, distribusi hewan dari daerah asal tetap berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Pengiriman dari Makassar ke Batu Licin, lalu ke Palangka Raya sampai ke Sampit lancar. Hewan juga sudah melalui karantina sekitar 20 hari,” ungkapnya.
Ia memastikan seluruh hewan yang dijual telah melalui proses pemeriksaan kesehatan untuk menjamin kelayakan sebagai hewan kurban.
“Sekarang ada barcode di telinga untuk memastikan hewan sehat dan bukan hasil selundupan,” katanya.
Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan menjelang hari pemotongan guna memastikan kondisi hewan tetap layak.
“Nanti biasanya dua minggu sebelum hari H ada pengecekan lagi dari dinas,” tutupnya. (*)