SAMPIT – Efek domino dari melemahnya rupiah tidak hanya berdampak pada perekonomian. Instansi yang bekerja dalam hal kebencanaan rupanya juga terdampak.
Pada Kamis (4/6/2026), rupiah kian anjlok ke Rp18.041 per satu dolar Amerika Serikat (AS). Angka itu kembali memecahkan rekor terburuk rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah.
Akibat merosotnya mata uang rupiah itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga sejumlah peralatan pemadam kebakaran. Pasalnya, sejumlah alat diimpor dari luar negeri.
“Pasti berpengaruh. Selang itu produksinya banyak di China, tentu sedikit banyak akan terdampak. Memang ada rentang waktu tertentu sebelum penyesuaian harga terjadi, tapi pengaruhnya tetap ada,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Kamis siang.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri di tengah upaya BPBD Kotim dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, BPBD kini menerapkan langkah efisiensi pada penggunaan anggaran operasional. Yang paling terasa adalah bahan bakar minyak (BBM). Hal itu membuat instansi ini harus ekstrahemat dalam menggunakan armada.
Multazam menjelaskan sebagian besar kendaraan operasional saat ini lebih banyak disiagakan di pos masing-masing dan hanya digunakan untuk kondisi yang benar-benar mendesak.
“Makanya penggunaan bahan bakar harus betul-betul efisien. Unit-unit sebagian besar stay, tidak ada yang bergerak kecuali memang urgent,” katanya.
“Kita berharap dolar tidak terus naik dan rupiah bisa membaik. Alhamdulillah harga Dexlite sempat turun sekitar Rp3.000, itu sedikit membantu operasional,” sambungnya.
Perubahan strategi juga dilakukan pada kegiatan patroli lapangan. Jika sebelumnya banyak menggunakan kendaraan roda empat, kini petugas lebih sering mengandalkan kendaraan roda dua yang dinilai lebih hemat dan fleksibel.
“Sekarang patroli lebih banyak menggunakan roda dua. Ini bagian dari efisiensi yang kami lakukan,” katanya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan fluktuasi ekonomi global, BPBD memastikan kesiapsiagaan menghadapi karhutla tetap menjadi prioritas utama.
Menurut Multazam, efisiensi dilakukan agar sumber daya yang tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal saat terjadi kondisi darurat.
“Yang penting kesiapsiagaan tetap berjalan. Kita menyesuaikan strategi agar operasional tetap efektif meskipun ada berbagai keterbatasan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana