Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kotim Masuk Musim Kemarau Awal Juni, Tetapi Masih Sering Hujan, Begini Penjelasan BMKG

Miftahul Ilma • Selasa, 16 Juni 2026 | 17:00 WIB
Hujan mengguyur Sampit. Miftah/kaltengpos.jawapos.com
Hujan mengguyur Sampit. Miftah/kaltengpos.jawapos.com

SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diprediksi sudah memasuki musim kemarau pada pada awal Juni 2026 lalu.

Namun, meski kemarau kali ini diprediksi lebih kering dan panjang akibat fenomena El Nino, namun hujan masih mengguyur wilayah berjuluk Bumi Habaring Hurung ini. 

Baca Juga: Dua Karhutla Terjadi di Kotim, Pertanda Kemarau Sudah Tiba

Terkait hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, masuknya musim kemarau bukan berarti hujan langsung berhenti total.

Kepala BMKG Stasiun Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo mengatakan, pada fase awal musim kemarau, hujan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah. Namun, pola hujan mulai mengalami perubahan dengan intensitas dan frekuensi yang cenderung menurun.

“Awal Juni ini kita sudah memasuki musim kemarau. Namun awal musim kemarau bukan berarti langsung tidak ada hujan. Hujan masih bisa terjadi, hanya intensitas dan frekuensinya mulai berkurang,” katanya, Selasa (16/6/2026). 

Baca Juga: Pemkab Kotim Gelontorkan Uang Rp15 Miliar untuk Perbaikan Drainase di Sampit

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal yang normal saat pergantian musim. Meski masih ada hujan, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi periode kering yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dari kondisi biasanya.

BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini dapat berlangsung sekitar 100 hingga 120 hari. Durasi tersebut lebih lama dibandingkan musim kemarau normal yang biasanya kurang dari tiga bulan.

Selain berkurangnya curah hujan, kondisi kemarau panjang juga dapat berdampak terhadap ketersediaan air. Terutama di wilayah pesisir selatan Kotim yang memiliki karakteristik wilayah gambut dan dekat dengan laut.

Baca Juga: Kalteng Menghadapi Darurat Ekologis! Hutan Hilang, Banjir Terus Berulang

“Potensi kekeringan tetap ada karena durasi kemarau cukup panjang. Di wilayah selatan, ketika debit sungai menurun, air laut bisa masuk lebih jauh sehingga air menjadi payau,” jelasnya.

Mulyono mengimbau masyarakat mulai melakukan penghematan penggunaan air serta menjaga lingkungan selama musim kemarau berlangsung.

“Kami mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta selalu menjaga kesehatan selama musim kemarau berlangsung,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#gambut #hujan #BMKG Stasiun Haji Asan Sampit #musim kemarau