Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kemarau Ekstrem Mengintai Kotim, BPBD Ingatkan Warga Antisipasi Karhutla

Miftahul Ilma • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:30 WIB
Kemarau di Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Kemarau di Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) harus bersiap mulai dari sekarang dalam menghadapi kemarau tahun ini. Pasalnya, musim kering tahun ini diprediksi berlangsung cukup panjang dengan intensitas hujan yang minim.

Hal itu membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa terjadi. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim meminta masyarakat mulai memperketat kewaspadaan.

Berdasarkan informasi iklim yang diterima BPBD dari BMKG, periode Juli hingga September 2026 menjadi waktu yang perlu diwaspadai. Curah hujan diperkirakan berada di bawah kondisi normal sehingga sejumlah daerah berpotensi mengalami kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam menyebut, kondisi lapangan saat ini menunjukkan sejumlah kawasan mulai mengalami kekeringan. Situasi tersebut membuat vegetasi mudah terbakar apabila muncul percikan api.

Ia mengatakan, masyarakat memiliki peran besar dalam mencegah karhutla. Terutama dengan menghindari kegiatan yang dapat memicu munculnya api di area terbuka.

“Sekarang yang perlu dijaga adalah jangan sampai ada aktivitas manusia yang menjadi awal munculnya kebakaran. Lahan yang sudah kering akan lebih cepat terbakar dan sulit dikendalikan,” kata Multazam, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu ancaman yang harus dicegah. Selain itu, kebiasaan kecil seperti membuang sisa pembakaran atau puntung rokok sembarangan juga dapat berisiko ketika kondisi lingkungan kering.

BPBD Kotim juga telah meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan munculnya titik api. Pemantauan kawasan rawan dilakukan bersama instansi terkait untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.

“Jangan menunggu api membesar baru ditangani. Kalau ada tanda-tanda kebakaran, segera informasikan supaya bisa dilakukan penanganan lebih cepat,” ujarnya.

Multazam menambahkan, pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

“Informasi dari masyarakat sangat membantu kami. Semakin cepat diketahui, semakin kecil kemungkinan api meluas dan mengganggu aktivitas warga,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
#kemarau di kotim #kemarau 2026 #musim kemarau