SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengingatkan nelayan, khususnya pengguna perahu kecil, untuk tidak memaksakan melaut selama musim angin timuran.
Pasalnya, kondisi itu membuat tinggi gelombang di perairan Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai 1 hingga 1,5 meter. Hal itu masuk kategori berbahaya bagi kapal nelayan berukuran kecil.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi dominasi angin dari arah tenggara atau timur yang mulai berlangsung sejak Juni dan diperkirakan bertahan hingga Oktober.
Baca Juga: BMKG Prediksi Puncak Kemarau Kotim Diprediksi Agustus-September, Waspada Karhutla
“Gelombang berkisar antara 1 sampai 1,5 meter. Untuk kapal nelayan itu sudah masuk kategori berbahaya,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, tidak semua kapal terdampak dengan tingkat risiko yang sama. Kapal berukuran besar seperti kapal penumpang masih dapat beroperasi karena batas peringatannya berada di atas dua meter.
“Kalau kapal nelayan yang kecil, kami imbau jangan berlayar dulu. Tetapi untuk kapal seperti Pelni maupun DLU masih aman,” katanya.
Menurut Mulyono, nelayan yang tetap beraktivitas diminta selalu memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG karena kondisi angin dan gelombang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Kami mengimbau nelayan tetap waspada dan selalu memantau informasi cuaca secara real time melalui website BMKG,” tegasnya.
BMKG juga memprediksi tinggi gelombang masih berpotensi meningkat hingga Oktober seiring masih dominannya angin timuran di wilayah perairan Kalimantan Tengah. (*)
Editor : Agus Pramono