SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit merevisi perkiraan puncak musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Jika sebelumnya diprediksi terjadi pada Agustus, kini puncak musim kemarau diperkirakan bergeser ke September.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan perubahan tersebut dipengaruhi adanya pergeseran awal musim kemarau yang terjadi tahun ini.
“Puncaknya kemarin kita bergeser dari Agustus ke September,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: Musim Kemarau Picu Karhutla, Luas Lahan Terbakar di Kotim Tembus Ratusan Hektare
Menurut Mulyono, perubahan prediksi itu merupakan hasil pembaruan analisis kondisi atmosfer yang dilakukan BMKG.
“Ada perubahan prediksi karena ada pergeseran awal musim kemarau,” katanya.
BMKG memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir Oktober. Selama periode tersebut, peluang hujan diprediksi masih ada, tetapi hanya bersifat lokal dengan intensitas ringan.
“Kemarau kita prediksi sampai akhir Oktober. Potensi hujan masih ada, tetapi kecil sekali, paling hanya hujan spot-spot seperti rintik-rintik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama karena cuaca panas masih akan mendominasi dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, arah angin yang kini didominasi dari selatan, tenggara, hingga timur juga berpotensi membawa asap ke wilayah Kota Sampit apabila kebakaran terjadi di kawasan selatan.
“Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit. Itu yang kita khawatirkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono